Kamis, 09 April 2009

Kejahatan Amerika

Assalâmu‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh.

Pembaca yang budiman, masyarakat dunia, termasuk di Dunia Islam, banyak yang berharap bahwa Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Obama saat ini bisa membawa perubahan positif yang besar bagi dunia. Mereka sepertinya lupa, bahwa sejak awal berdirinya hingga kini, Amerika tetaplah Amerika, yang memiliki reputasi sebagai negara penjajah nomor satu. Kejahatan Amerika atas warga dunia, termasuk kaum Muslim, sudah tidak terhitung. Pasca Perang Dunia II saja Amerika telah menyerang lebih dari 100 negara. Di antaranya bahkan diduduki secara langsung. Yang paling mutakhir adalah penyerangan sekaligus pendudukan Amerika di Afganistan dan Irak, juga dukungan total Amerika atas pendudukan Palestina oleh Israel selama puluhan tahun. Serangan dan pendudukan itu dilakukan oleh Amerika, baik di bawah presidennya yang berasal dari Partai Republik maupun Demokrat.

Selama 44 kali pergantian presiden Amerika, termasuk Obama saat ini, Amerika selalu menampilkan wajah yang bengis dan kejam, khususnya kepada kaum Muslim di negeri-negeri Islam. Hal ini wajar mengingat watak dasar ideologi yang diemban Amerika bersifat imperial (menjajah). Bahkan penjajahan adalah pilar sekaligus metode baku ideologi ini untuk mempertahankan eksistensinya sekaligus menyebarluaskan pengaruhnya ke seluruh dunia.

Karena itu, dunia, termasuk Dunia Islam, sesungguhnya salah alamat jika tetap berharap kepada Amerika—meski di bawah Obama—untuk menyelamatkan dunia ini dari berbagai krisis dan kekacauan yang terjadi. Pasalnya, sumber krisis dan kekacauan itu ada pada Kapitalisme Global, yang tetap diemban oleh Amerika sebagai negara adidaya hingga saat ini. Selama Kapitalisme Global dan Amerika yang memimpin dunia ini, jangan harap dunia ini akan lepas dari berbagai krisis dan kekacauan.

Warga dunia, apalagi kaum Muslim, sesungguhnya hanya bisa berharap pada Khilafah Islamiyah; sebuah institusi pemerintahan Islam global yang insya Allah segera akan tegak kembali. Khilafahlah yang akan menyelamatkan dunia dengan syariahnya sekaligus menyebarkan Islam sebagai rahmat ke seluruh warga dunia.

Itulah di antara perkara penting yang dipaparkan secara panjang-lebar dalam tema utama al-wa‘ie kali ini, selain sejumlah tema penting lainnya yang layak untuk dibaca. Selamat membaca!

Wassalâmu‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh.

Sumber : Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)

Minggu, 15 Maret 2009

Apa itu Ideologi...???

1. Mencari pengertian ideologi
Jawab :
Ideologi adalah gabungan antara pandangan hidup yang meruupakan yang merupakan ninilai –nilai yang telah mengkristal dari suatu bangsa serta Dasar Negara yang memiliki nilai-nilai falsafah yang menjadi pedoman hidup suatu bangsa, selain itu, Idiologi adalah merupakan hasil reflesi manusia berkat kemampuannya mengadakan distansi terhadap dunia kehidupannya. Maka terdapat suatu yang bersifat dialektis antara idiologi dengan masyarat negara. Di suatu pihak membuat idiologi semakin realistis dan pihak yang lain mendorong masyarakat mendekati bentuk yang ideal. Idologi mencerminkan cara berpikir masyarakat, bangsa maupun negara, namun juga membentuk masyarakat menuju cita-citanya.

2. Apa yang di maksud dengan aspek idealitas, Aspek normalitas, aspek realitas, dan aspek fleksibilitas.
Jawab :
Aspek Ideaslitas : yaitu hakikat nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila pancasila yaitu: ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan. Hikikat nilai-nilai pancasila yaitu nilai-nilai dasar yang terkandung didalam pancasila yang bersifat sistematis, rasional dan menyeluruh tersebut bersumber pada filsafat pancasial (nilai-nilai filosofis yamng terkandung dalam pancasila).

Aspek Normalitas : yaitu niali-nilai yang terkandung dalam pancasila perlu dijabarkan dalam suatu sistem norma-norma kenegaraan. Dalam pengertian ini pancasila terkandung dalam pembukaan UUD 1945 yang merupakan norma tertib hukum tertinggi dalam negara Indonesia serta merupakan states fundamental norm (pokok kaidah negara yang fundamental).

Aspek Realitas : artinya mampu dijabarkan dalam segala aspek kehidupan nyata. maka yaitu suatu ideologi harus mampu mencerminkan raelitas yang hidup dan berkembang dalam masyarakat. Oleh karena itu pancasila selain memiliki nilai-nilai ideal serta normatif pancasila harus mampu dijabarkan dalam kehidupan masyarakat secara nyata (kontrik) baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam penyalenggaraan negara. Dengan demikian pancasila sebagai ideologi terbuka tidak bersifat “utopis”yang hanya berisi ide-ide yang bersifat mengawang melainkan suatu ideologi yang bersifat “realistis.

Aspek Fleksibilitas : yakni Pancasila sebagi suatu idiologi tidak bersifat kaku dan tertutup, namun bersifat reformatif, dinamis dan terbuka. Hal ini dimaksudkan bahwa idiologi pansila besifat aktual, dinamis, antisifasif dan senentiasa mampu menyelesaikan dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu Pancasila juga mampu menyaring budaya-budaya asing yang masuk di Negara Indonesia dngan kelima hakekat dari pancasila yang juga merupakan esensi dari nilai-nilai pancasila yang sifatnya universal sehingga dalam nilai tersebut terkandung cita-cita, tujuan serta nilai-nilai yang baik dan benar.

3. Mengapa Pancasila di jadikan Ideologi…?
Jawab :
Pancasila dijadikan ideologi dikerenakan, Pancasila memiliki nilai-nilai falsafah dan pancasila telah teruji kokoh dan kuat sebagai dasar Negara. Selain itu, Pancasila juga merupakan wujud dari konsensus nasional karena negara bangsa Indonesia ini adalah sebuah desain negara moderen yang disepakati oleh para pendiri negara Republik Indonesia. Pancasila juga memiliki karakter utama sebagai ideologi nasional. adalah cara pandang dan metode bagi seluruh bangsa Indonesia untuk mencapai cita-citanya, yaitu masyarakat yang adil dan makmur.

4, Pancasila sebagai Ideologi Indonesia termasuk Ideologi terbuka atau tertutup..?
Jawab :
Pancasila merupakan Ideologi terbuka hal ini disebabkan dimaksudkan bahwa idiologi pansila besifat aktual, dinamis, antisifasif dan senentiasa mampu menyelesaikan dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi serta dinamika perkembangan aspirasi masyarakat. Keterbukaan idiologi pancasila bukan berarti mengubah nilai-nilai dasar yang terkandung didalamnya, namun mengeksplisitkan wawasannya lebih kongkrit, sehingga memiliki kemampuan yang reformatif untuk memecahkan masalah-masalah aktual yang senentiasa berkambang seiring dengan aspirasi rakyat, perkembangan iptek dan zaman.
Aku Bicara © 2008. Design by :Yanku Templates Sponsored by: Tutorial87 Commentcute