Tampilkan postingan dengan label Aku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aku. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Desember 2010

Syariat Islam Mengenai Cinta & Menikah Tanpa Cinta


Cinta seorang laki-laki kepada wanita dan cinta wanita kepada laki-laki adalah perasaan yang manusiawi yang bersumber dari fitrah yang diciptakan Alloh Subhanallohu wa Ta’ala di dalam jiwa manusia, yaitu kecenderungan kepada lawan jenisnya ketika telah mencapai kematangan pikiran dan fisiknya. Sebagaimana Firman Alloh Subhanallohu wa Ta’ala, yang artinya: "Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendir , supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya , dan dijadikan-Nya diantara kamu rasa kasih sayang .Sesungguhnya pada yang demikian itu benar- benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (QS. Ar Rum: 21)

Cinta pada dasarnya adalah bukanlah sesuatu yang kotor, karena kekotoran dan kesucian tergantung dari bingkainya. Ada bingkai yang suci dan halal dan ada bingkai yang kotor dan haram. Cinta mengandung segala makna kasih sayang, keharmonisan, penghargaan dan kerinduan, disamping mengandung persiapan untuk menempuh kehiduapan dikala suka dan duka, lapang dan sempit.

Cinta Adalah Fitrah Yang Suci

Cinta bukanlah hanya sebuah ketertarikan secara fisik saja. Ketertarikan secara fisik hanyalah permulaan cinta bukan puncaknya.Dan sudah fitrah manusia untuk menyukai keindahan.Tapi disamping keindahan bentuk dan rupa harus disertai keindahan kepribadian dengan akhlak yang baik.

Islam adalah agama fitrah karena itulah islam tidaklah membelenggu perasaan manusia.Islam tidaklah mengingkari perasaan cinta yang tumbuh pada diri seorang manusia .Akan tetapi islam mengajarkan pada manusia untuk menjaga perasaan cinta itu dijaga , dirawat dan dilindungi dari segala kehinaan dan apa saja yang mengotorinya.

Islam mebersihkan dan mengarahkan perasaan cinta dan mengajarkan bahwa sebelum dilaksanakan akad nikah harus bersih dari persentuhan yang haram.

Menikah Tanpa Cinta

Adakalanya sebuah pernikahan terjadi tanpa dilandasi oleh cinta. Mereka berpendapat bahwa cinta itu bisa muncul setelah pernikahan. Islam memandang bahwa faktor ketertarikan merupakan faktor yang tidak bisa diabaikan begitu saja.Islam melarang seorang wali menikahkan seorang gadis tanpa persetujuannya dan menghalanginya untuk memilih lelaki yang disukainya seperti yang termuat dalam Al Qur'an dan Al Hadist

Firman Alloh Subhanallohu wa Ta’ala, yang artinya: "Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin dengan bakal suaminya" (QS. Al Baqarah: 232)

"Dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu , bahwa seorang wanita datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam , lalu ia memberitahukan bahwa ayahnya telah menikahkannya padahal ia tidak suka , lalu Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam memberikan hak kepadanya untuk memilih” (HR Abu Daud)

Karena yang menjalani sebuah pernikahan adalah kedua pasangan itu bukanlah wali mereka.

Selain itu seorang yang hendak menikah hendaknyalah melihat dahulu calon pasangannya seperti termuat dalam hadist: "Apabila salah seorang dari kamu meminang seorang wanita maka tidaklah dosa atasnya untuk melihatnya, jika melihatnya itu untuk meminang, meskipun wanita itu tidak melihatnya" (HR. Imam Ahmad)

Memang benar dalam beberapa kasus, pasangan yang menikah tanpa didasari cinta bisa mempertahankan pernikahannya. Tapi apakah hal ini selalu terjadi, bagaimana bila yang terjadi adalah sebuah neraka pernikahan, kedua pasangan saling membenci dan saling mencaci maki satu sama lain. Sebuah pernikahan dalam islam diharapkan dapat memayungi pasangan itu untuk menikmati kehidupan yang penuh cinta dan kasih sayang dengan mengikat diri dalam sebuah perjanjian suci yang diberikan Alloh Subhanallohu wa Ta’ala. Karena itulah rasa cinta dan kasih sayang ini sudah sepantasnya merupakan hal yang harus diperhatikan sebelum kedua pasangan mengikat diri dalam pernikahan. Karena inilah salah satu kunci kebahagian yang hakiki dalam mensikapi problematika rumah tangga nantinya.

Jumat, 09 Juli 2010

Oh..Andaikan Aburizal Bakrie Berani Meniru Cut Tari

Meskipun banyak kalangan menganggap bahwa permintaan maaf saja
tak cukup, tapi Cut Tari memberikan contoh yang baik. Cut Tari dengan
berlinang air mata meminta maaf kepada publik atas peredaran video mesum
mirip dirinya.

Bandingkan dengan mantan petinggi Group Bakrie, Aburizal Bakrie yang
masih saja tidak merasa bahwa Group Bakrie bersalah dalam kasus lumpur
Lapindo. Tidak peduli mayoritas pendapat pakar geologi internasional
mengatakan bahwa semburan lumpur itu bukan bencana alam melainkan akibat
aktivitas pemboran. Tidak peduli dengan bocornya dokumen rahasia MEDCO
yang mengungkapkan bahwa aktivitas pemboran adalah pemicu terjadinya
semburan lumpur. Begitu juga dengan hasil audit BPK.

Oh, andaikata Aburizal Bakrie berani meniru keberanian Cut Tari untuk
meminta maaf ke publik.. Ia meminta maaf kepada warga Porong, Sidoarjo
atas terjadinya semburan lumpur Lapindo. Ia juga meminta maaf kepada
seluruh rakyat Indonesia bahwa penanganan semburan lumpur Lapindo telah
menyedot uang rakyat di APBN.

Minggu, 25 Januari 2009

Science of Qur'an (Ilmu Pengetahuan Dalam Al-Qur'an)



Sejarah Mencatat

“Matematika adalah bahasa Tuhan ketika Dia menulis alam semesta”. Galilea (1564-1642 M)

Bagi seorang yang awam mungkin apa yang disampaikan oleh Galilea di atas adalah sebuah kebodohan yang tak mendasar. Tapi hukum ini tidak berlaku bagi ilmuwan-ilmuwan yang selalu mengedepankan rasionalitas dan bersandar pada aspek-aspek fenomena realita dan teoritis. Sebagian besar ilmuwan ber¬pendapat bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dengan kode-kode tertentu dan struktur bilangan tertentu. Alam sendiri sebenarnya telah mengajarkan kepada manusia tentang adanya periode-periode tertentu yang selalu berulang, terstruktur dan sistematis, misalnya, orbit Bulan, Bumi dan planet-planet, lintasan meteorit dan bintang-bintang, DNA, kromosom, sifat atom, lapisan bumi dan atmosfer, dan elemen kimia dengan segala karakteristiknya.

Lantas pertanyaannya sekarang apa kaitannya statement ilmuwan-ilmuwan tersebut dan fenomena-fenomena alam tersebut dengan keberadaan Al-Qur’an?. Kitab yang merupakan Imam bagi kaum muslim yang telah diimani kurang lebih 1.780.000.000 jiwa dan 80% penduduk Indonesia ini ternyata mengajarkan pembacanya bahwa ”Tuhan menciptakan sesuatu dengan hitungan teliti” (al-Jinn 72: 28). Bahkan dalam salah satu ayatnya menyatakan jumlah manusia yang akan datang menghadap Tuhan Yang Maha Pemurah, selaku seorang hamba pada hari yang telah dijanjikan telah ditetapkan dengan hitungan yang teliti (Maryam 1 9 : 93-94).

Dalam pandangan Al-Qur'an, tidak ada peristiwa yang ter¬jadi secara kebetulan. Semua terjadi dengan "hitungan", baik dengan hukum-hukum alam yang telah dikenal manusia maupun yang belum. Bagi Muslim yang beriman, tidak ada bedanya apakah Al-Qur'an diciptakan dengan "hitungan" atau tidak, mereka tetap percaya bahwa kitab yang mulia ini berasal dari Tuhan Yang Esa. Pencipta alam semesta, yang mendidik dan memelihara manusia. Namun bagi sebagian il¬muwan, terutama yang Muslim, yang percaya bahwa adanya kodetifikasi alam semesta, baik kitab suci, manusia maupun objek di langit, adalah suatu "kepuasan tersendiri" jika dapat menemukan hubungan-hubungan tersebut. Al-Qur'an adalah salah satu mahakarya yang diturunkan dari langit, untuk pedoman umat manusia, berlaku hingga alam semesta runtuh. Ia menggambarkan masa lalu, sekarang dan masa depan de¬ngan cara yang menakjubkan. Prof. Palmer seorang ahli kela¬utan di Amerika Serikat mengatakan "Ilmuwan sebenarnya hanya menegaskan apa yang telah tertulis didalam al-Qur'an beberapa tahun yang lalu". (Arifin Muftie : Matematika Alam Semesta)
Seolah ingin menegaskan dengan apa yang dikatakan oleh Profesor asal negeri Paman Sam di atas Allah SWT selaku pencipta alam semestapun telah berfirman dalam Al-Qur’an pada surat az-Zumar 39:9 : "Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran". Kebenaran ayat ini sebenarnya pernah dirasakan dunia pada kisaran abad ke-8 hingga abad ke-13 M. Banyak ilmuwan-ilmuwan muslim yang lahir pada zaman itu dan menghasilkan penemuan-penemuan fenomenal misalnya Abu Ali al Husain ibn Abdallah ibn Sina (panggil : Ibnu Sina) selaku bapak kedokteran dunia yang kini sengaja disebut oleh orang-orang barat dengan nama Avicenna. beliau adalah orang pertama yang memperkenalkan pengobatan secara sistematis dan beliau pulalah yang pertama yang mencatat dan menggambarkan anatomi tubuh manusia secara lengkap untuk pertama kalinya kedalam sebuah buku yang diberi nama Al Qanun fi al Tibb yang kemudian disebut The Canon. Dan dari sana ia berkesimpulan bahwa, setiap bagian tubuh manusia, dari ujung rambut hingga ujung kaki hingga kuku saling berhubungan. Lebih khusus lagi, ia mengenalkan dunia
kedokteran pada ilmu yang sekarang diberi nama pathology dan farma, yang
menjadi bagian penting dari ilmu kedokteran (baca : http://www.thekumaiprojek.blogspot.com). Selain itu ada lagi nama-nama besar seperti al-Farabi, al-jabar dan Ibn Rusyd yang juga merupakan ahli ilmu kealaman, matematika, sosial, kedokteran dan juga cendikiawan agama.

“Pinter dan terkenal sekaligus beramal”. Ya itulahlah kalimat yang tepat bagi ilmuwan muslim dulunya. Maklum hal ini bisa terjadi karena dulu memang disebabkan faktor kedekatan kaum muslim dengan Imamnya, pedomannya sekaligus mata air segala ilmu yaitu al-Qur’anul karim. Dulu ketika berbicara ilmu maka maksudnya adalah semua ilmu baik itu agama, kedokteran, sosial, hukum, ekonomi maupun yang lain dan hal ini tentunya berbeda dengan kondisi zaman sekarang yang mengalami pemisahan-pemisahan (baca: sengaja dipisahkan). Pada zaman sekarang ketika berbicara science atau ilmu maka yang dimaksud adalah segala ilmu kecuali ilmu agama, karena sekarang yang dimaksud dengan agama hanyalah bentuk ibadah yang dilakukan di masjid, mushalla dan langgar saja. Jika kita tilik history perilaku ini tentunya tak terlepas dari peran abad ke-19 dimana dunia eropa bergairah mengembangkan ilmu pengetahuan seraya mencampakkan agama dan celakanya kaum muslim pada saat itu terpuruk dalam berbagai keterbelakangan dan kejumudan hingga 2 abad berlangsung hal ini tetap berjalan seirama sampai detik ini.

Kita Hari Ini

Semenjak bergulirnya Revolusi Industri di Inggris pada abad ke-19 seiring itu berjalannya dunia Islam mengalami kemerosotan yang begitu tajam. Produk-produk ilmu pada saat itu hanya bersifat "daur ulang" dan itupun sebagian besar dalam bidang keagamaan. Praktek kehidupan kaum Muslim pada saat itu telah dicemari oleh bid'ah, khurafat dan takhayul yang mana kondisi ini tak jauh beda dengan kondisi umat saat ini.

Dikehidupan Islam yang baru saat ini, Al-Qur’an yang merupakan simbol kejayaan umat Islam karena memang banyaknya harta karun (Science) yang tersimpan didalamnya kini hanya dijadikan sekedar pajangan dinding disetiap rumah kaum muslim, atau hanya sebatas dijadikan ajang perlombaan rutin setiap tahunnya dan kita menyebutnya “Tilawatil Qur’an” (MTQ) yang begitu syarat korupsi disetiap pentasnya, bahkan yang lebih fenomenal, kini ayat-ayat yang begitu diagungkan oleh sang Pengarangnya (Allah Jalla Jalaloh) ini banyak dijadikan sebagai Jimat ataupun susuk yang katanya apabila diletakkan pada bagian tubuh tertentu akan mampu melindungi si pemilik jimat seolah-olah Tuhan bukanlah Maha Penolong bagi setiap hambanya. Tentunya hal ini begitu memperihatinkan bagi kondisi umat yang begitu dimuliakan oleh Tuhan Sang Pencipta alam semesta maupun oleh makhluk lainnya karena kesholihan sang penggembalanya ialah Muhammad SAW.

Belum habis rasanya keterpurukan umat Islam. Kinipun berbagai macam virus penyakit bersarang pada setiap pola pikir, tingkah laku dan juga pola kehidupan sehari-hari kaum muslim. Begitu kentalnya penyakit SEPILIS (Sekularisme, Pluralisme, Liberalisme) sehingga memisahkan umat ini dari tatanan kehidupan Islami yang bersumber pada Al-Qur’an. Dari segi ekonomi misalnya kini diseluruh penjuru dunia termasuk umat yang mulia ini berlomba-lomba mencari harta dalam ranah ribawi yang jelas-jelas diharamkan dalam agama Islam. Tak lagi bersifat personal kinipun banyak Institusi ribawi yang dilegalitaskan oleh pemerintah seperti Bank Sekuler, Koperasi Uang dan lain sebagainya. Tak hanya itu perekonomian dunia saat inipun tak lagi ditumpukan pada sektor real yang dulu menjadi kejayaan ekonomi dunia Islam namun kini lebih dititik beratkan pada sektor non-real seperti permainan bursa saham yang hanya dilakoni oleh para kapital-kapital pemilik modal dan anehnya permainan ini sangat berimbas terhadap hajat orang banyak, yang berarti nasib ekonomi suatu negara dapat berakibat baik dan buruk tergantung hasil akhir dari permainan bursa saham ini. Tentunya hal ini bisa terjadi karena memang hampir mayoritas negara didunia saat ini mengadopsi sistem ekonomi kapitalis yang jelas-jelas terbukti gagal dinegeri nenek moyangnya yaitu USA.
Tak jauh beda dengan sektor ekonomi, kini sektor hukumpun disekulerisasi. Di Indonesia misalnya hampir 50.000 orang menjadi korban perdagangan manusia (Trafficking) tiap tahunnya, 2,3 Juta kasus aborsi dan banyak kasus pembunuhan lainnya terkuak tiap tahunnya dan yang paling heboh lagi 15 juta Abege (anak baru gede) Indonesia melahirkan tiap tahunnya diluar nikah (baca : http://www.detiknews.com). Begitu banyaknya kasus kejahatan saat ini seolah membuktikan bahwa tatanan sosial dan hukum dinegeri tercinta kita saat ini jauh dari keidealan yang diinginkan. Padahal dulu saat umat ini begitu dekat dengan kitabnya selama 13 abad lamanya sejarah mencatat dunia hidup dalam kedamaian dan kemakmuran antar sesama umat manusia.
Sejarawan Italia, Brands Johny Burkz pernah mengatakan, “Kesejahteraan dan kepemimpinan menjauh dari umat Islam dikarenakan mereka tidak mau mengikuti petunjuk Al Qur’an dan mengamalkan hukum dan undang-undang-nya. Padahal sebelumnya sejarah telah mencatat bahwa generasi awal Islam meraih kejayaan, kemenangan, dan kebesaran. Musuh-musuh Islam tahu rahasia ini, sehingga mereka menyerang dari sisi ini. Ya, kondisi kehidupan umat Islam sekarang ini suram, karena tidak pedulinya umat ini terhadap Kitabnya, bukan karena ada kekurangan dalam Al Qur’an atau Islam secara umum. Yang obyektif adalah tidak benar menganggat sisi negatif dengan menghakimi ajaran Islam yang suci.” Apa yang disampaikan oleh sejarawan Italia tadi sebenarnya hanyalah merupakan analisis realita yang terjadi dalam kehidupan umat Islam saat ini yang telah mencampakkan setiap bait dan ayat Al-Qur’an secara spiritual dalam pengamalan kehidupannya.

Rujuk Ilal Qur’an (kembali kepada Al-Qur’an)

Banyaknya bukti kebenaran dalam Al-Qur’an harusnya menjadikan umat ini untuk segera kembali dan rujuk kepada kitab mulia ini. Dan banyaknya ilmu pengetahuan yang terkandung dalam Al-Qur’an harusnya menjadi motivator bagi umat ini untuk menggalinya demi kemaslahatan kehidupan dunia seperti yeng telah dilakukan umat muslim pada masa lampau. Contoh yang paling sederhana adalah ayat 68-69 Surat Lebah atau an-Nahl, yang menceritakan aktivitas lebah "mendirikan sarang dan mencari makan".

Ayat tersebut menggunakan bentuk kata kerja femina, ka¬rena memang yang mencari makan dan membuat sarang adalah lebah betina. Lebah jantan diberi makan oleh lebah betina, bukan sebaliknya. Jangankan masyarakat di abad ke-7, ma¬syarakat di abad ke-21 pun tidak tahu bagaimana cara mem¬bedakan lebah jantan dan lebah betina Terlebih, memahami bahwa lebah betinalah yang mencari makan, bukan sebaliknya. Jika Surat an-Nahl merefleksikan lebah betina dengan bentuk kata kerja femina. Lebah jantan digambarkan oleh al-Qur'an pada nomor suratnya, yaitu bilangan 16. Bilangan 16 ini adalah banyaknya kromosom lebah jantan, sedangkan jumlah kro¬mosom lebah betina diketahui berjumlah 32. Teknik-teknik seperti inilah yang disebut ilmuwan dengan coding isyarat-isyarat di alam semesta, atau meminjam istilah Malik Ben Nabi "tanda-tanda" atau ayat bagaikan "anak panah yang berkilauan".

"Hanya orang-orang yang berakal sajalah yang dapat menerima pelajaran". (ar-Ra'd 73: 19)

Pada tahun 1965 Robert Wilson dan Arno Pnezias mengukur radiasi diangkasa raya yang dikuatkan oleh para peneliti NASA yang menggunakan alat yang bernama COBE Spacecart, merekapun menyimpulkan bahwa pada masa dahulu langit dan Bumi awalnya padu. Dan Al-Qur’an pada surat Al Anbiyaa ayat 30 telah menyatakan hal yang sama sejak 1400 tahun yang lalu. Kembali pada tahun 1992 NASA meluncurkan satelit COBE yang berhasil menangkap sisa-sisa radiasi ledakan Big Bang berbentuk bunga mawar merah yang kemudian dikenal sebagai teori pemisahan antara Bumi dan langit. Dan sekali lagi Al-Qur’an merekam fenomena alam ini sejak 1400 tahun yang lalu pada surat Ar Rahman ayat 37-38 : “Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan ? “.

"Hanya orang-orang yang berakal sajalah yang dapat menerima pelajaran". (ar-Ra'd 73: 19)

Tidak ada keraguan sebenarnya bagi umat ini untuk kembali menjalankan aktivitas roda kehidupannya dengan nafas Al-Qur’an. Karena sudah cukup bukti kitab ini memberikan kebenaran bagi kita agar senantiasa memeluk dan mengamalkan setiap bait nasehat Tuhan yang tertulis didalamnya. Tentunya bagi setiap muslim telah terpatri suatu prinsip bahwa “Hidup ini dari-Nya, untuk-Nya dan hanya kembali kepada-Nya”. Dan jika setiap insan muslim telah kembali pada tuntunannya ialah Al-Qur’anul karim, maka sebenarnya segala problematika kehidupan saat ini akan dapat teratasi dengan baik dan diganti dengan kehidupan yang lebih khusnul khatimah. Amin!!!

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS.Al-Hadiid:16)

Yakin Usaha Sampai

Jumat, 23 Januari 2009

Bahaya Khuruj (Melawan) Terhadap Pemerintah

Gerakan khuruj (pemberontakan) dan inqilab (melancarkan kudeta) terhadap suatu pemerintahan (yang sah) bukanlah sarana untuk memperbaiki masyarakat. Bahkan justru memicu timbulnya kerusakan di tengah masyarakat. Khuruj terhadap pemerintah muslim, bagaimana pun tingkat kezhalimannya, merupakan bentuk penyimpangan dari manhaj Ahlus Sunnah (Wal Jama’ah). Ada dua macam bentuk khuruj, (1). Khuruj dengan memanggul senjata (2). Khuruj dengan perkataan dan lisan. Mereka yang selalu memunculkan perpecahan, pertikaian, dan pergolakan terhadap pemerintahan muslim, pada hakikatnya telah melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan tersebut. padahal, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kita untuk bersabar, sebagaimana sabda beliau.

“Kecuali engkau melihat suatu kekufuran yang sangat jelas, yang dapat engkau buktikan di sisi Allah” [Muttafaq ‘alaih] Renungkanlah perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kecuali engkau melihat suatu kekufuran”. Penuturan beliau tidak terhenti sampai di situ saja, tetapi diiringi dengan keterangan “kekufuran yang sangat jelas”. Lantas beliau menambahkan keterangan lebih lanjut “ yang dapat engkau buktikan tentang itu di sisi Allah”. Di dalam hadits ini, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan lima buah penekanan untuk mencegah orang dari khuruj dan takfir (mengkafirkan pemerintah atau pun individu muslim) yang merupakan perbuatan sangat buruk dan berbahaya. Karena dapat mengakibatkan kerusakan dan kehancuran di tengah masyarakat. Bahkan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata di dalam kitabnya, I’lamul Muwaqqi’in : “Tidak ada satu pemberontakan pun terhadap pemerintah muslim yang membawa kebaikan terhadap umat pada masa kapan pun”. Begitu juga hujatan terhadap pemerintah. Manakala sebagian orang menjadikan hujatan terhadap pemerintah sebagai materi ceramah dan “nasihat-nasihat” yang mereka sampaikan untuk memperoleh simpati manusia. Manusia pada dasarnya menyukai hujatan terhadap pemerintah, juga terhadap para penguasa dan pemimpin, serta kepada setiap orang yang mempunyai posisi lebih tinggi dari mereka. Seakan-akan hujatan dan celaan tersebut sebagai hiburan yang dapat menyenangkan hati mereka Sungguh suatu fenomena yang sangat menyedihkan ketika kita menyaksikan hujatan, makian, serta cercaan terhadap pemerintah, saat ini menjadi materi-materi ceramah dan “masukan” bagi sebagian da’i zaman sekarang, khususnya pada waktu terjadinya fitnah. Hingga materi yang mereka sampaikan akan membuat orang-orang berkomentar :”Masya Allah, Syaikh ini orang yang berani, atau Syaikh ini orang yang kuat”. Padahal fakta ini sesungguhnya tidak mendatangkan manfaat apa pun, melainkan hanya akan menghasut dan mengotori jiwa.

Sebagian orang justru mengira, tindakan tersebut merupakan bentuk upaya menasehati pemerintah. Padahal terdapat metode dan prosedur dalam menasehati pemerintah, seperti termaktub dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Barangsiapa di antara kalian yang ingin menasehati penguasa, maka hendaklah dia pergi kepadanya, dan merahasiakan nasihatnya itu”.

Hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini menjelaskan bahwa nasihat kepada para penguasa atau pemerintah, hendaklah disampaikan secara rahasia. Karena bila ditempuh secara terang-terangan akan menimbulkan gejolak hati, yang merusak hati Kalau di antara kita –para penuntut ilmu- ada yang terjatuh ke dalam suatu kesalahan, kemudian salah seorang menasihatinya di depan umum, ia langsung akan berkata : “Hendaklah kamu bertakwa kepada Allah. Janganlah kamu membuka aibku di depan umum. Kalau engkau ingin menasihatiku, maka lakukanlah dengan empat mata”. Kalau para penuntut ilmu, para da’i yang mengajak manusia kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam –yang mengetahui keutamaan ilmu, keutamaan al-haq dan kembali kepadanya (setelah mengalami kekeliruan)- tidak menyukai metode seperti ini dalam memberikan suatu nasihat, maka bagaimana mungkin para penguasa yang memiliki kedudukan, kekuasaan, senjata, serta tentara yang banyak –bagaimana mungkin mereka- akan dapat menerima nasihat dengan cara yang tidak simpatik ini.

Justru yang lebih utama, tidak menasihati mereka di depan umum ; kalaupun hal ini tidak mendatangkan maslahat bagi pemerintah, paling tidak akan memberi maslahat bagi diri kita sendiri. Hal ini, tentunya apabila mereka (para penguasa) adalah orang-orang muslim. Batasan yang paling rendah untuk menghukumi mereka sebagai seorang muslim, ialah apabila mereka tunduk dan mengakui kebenaran agama Islam. Meskipun mereka melakukan suatu penyelewangan, mempunyai kesalahan yang banyak dan berbuat dosa-dosa besar. Dan ini semua tidak menjadikan mereka sebagai orang kafir, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Kecuali engkau melihat suatu kekufuran yang sangat jelas, yang dapat engkau buktikan di sisi Allah” [Muttafaqun ‘alaih]
Kemudian Syaikh Muqbil rahimahullah berkata : “Kami tidak memandang kudeta sebagai jalan untuk membenahi masyarakat. Bahkan gerakan tersebut, justru menimbulkan kerusakan dalam masyarakat”. Marilah kita simak sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Shahih Muslim, dari hadits Arfajah Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang datang kepada kalian, ketika kalian bersatu di bawah satu pimpinan, dia berkeinginan untuk memecah belah persatuan kalian, maka bunuhlah dia” [HR Muslim]. Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa pemberontakan terhadap suatu pemerintah, yang dapat menimbulkan suatu perpecahan di kalangan masyarakat merupakan salah satu hal yang mewajibkan seseorang untuk dibunuh.

Akan tetapi, perlu diingat, bahwa yang dapat menjatuhkan sanksi ini adalah waliyyul-amr, pemerintah yang memegang kekuasaan Dalam sebuah hadits dari Ubadah bin Shamit Radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan. “Kami berbaiat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk selalu patuh dan taat, baik terhadap apa yang kami suka maupun yang tidak kami suka, dan dalam keadaan sulit maupun lapang, dan untuk mendahulukan apa yang diperintahkan (di atas segala kehendak kami), dan untuk tidak merebut kekuasaan dari pemimpin yang sah. Kecuali engkau melihat suatu kekufuran yang sangat jelas, yang dapat engkau buktikan di sisi Allah” [Muttafaqun ‘alaih] Akan tetapi, ketaatan ini tidak boleh berlawanan dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Sesungguhnya ketaatan itu hanya terhadap perkara yang ma’ruf (baik) saja” [Muttafaqun ‘alaih] Dan sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang lain : “Tidak boleh taat kepada makhluk di dalam maksiat kepada Al-Khaliq” [HR Thabrani di dalam Al-Mu’jamul Kabir].
Kalau mau merenung sejenak, niscaya kita akan memperoleh fakta bahwa dalam sejarah Islam, tidak ada satu pemberontakan pun yang berhasil. Lain halnya dengan orang-orang kafir, kebanyakan pemberontakan yang mereka gerakkan berakhir dengan keberhasilan. Di sini seakan-akan Allah Subhanahu wa Ta’ala sedang menghendaki, supaya kita mau melihat dan memperhatikan bahwa cara seperti ini, bukanlah metode syar’i. Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya menginginkan kita supaya menempuh metode syar’i yang telah digariskan oleh-Nya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kitab-Nya.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” [Ar-Ra’d : 11]

“Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu” [Muhammad : 7]

“Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuat, Mahaperkasa” [Al-Hajj : 40]

Dari sini, kita dapat mengetahui bahwa metode syar’i adalah tidak keluar dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Azza wa Jalla berfirman. “Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa” [Al-An’am : 153]

“Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : ”Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat suatu garis, kemudian beliau berkata : “Ini adalah jalan Allah”, kemudian beliau membuat garis-garis yang banyak di bagian kanan dan bagian kirinya, lalu berliau berkata : “Ini adalah jalan-jalan (yang dimaksud oleh Allah), dan pada setiap jalan terdapat setan yang menyeru kepadanya”, kemudian beliau membaca ayat : “Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa”.


Dari sini jelaslah bagi kita, bahwa tidak ada jalan untuk memperbaiki kondisi masyarakat melainkan dengan mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi segala macam bentuk bid’ah. Mari kita simak firman Allah Azza wa Jalla yang sangat agung berikut ini. “Dan adakalanya kami memperlihatkan kepadamu (Muhammad) sebagian dari (siksaan) yang Kami janjikan kepada mereka, atau Kami wafatkan engkau (sebelum itu)” [Yunus : 46]

Banyak diantara manusia yang berkata “kami belum melihat kejayaan Islam”. Ketahuilah ! Bahwa tidaklah mesti kita melihat segala apa yang telah dijanjikan Allah kepada kita, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak melihat segala apa yang di jajikan oleh Allah. Coba kita menyimak firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang merupakan janji-Nya kepada orang-orang beriman.

“Allah telah menjajikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan amal shalih, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama telah Dia ridhai bagi mereka. Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam, ketakutan menjadi aman sentosa. Asalkan mereka (tetap) semata-mata beribadah kepada-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan suatu pun” [An-Nur : 55]

Sungguh ini merupakan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apabila kita dapat merealisasikan perintah Allah ini, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala pun akan merealisasikan apa yang telah Dia janjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kita. Wallahu ‘alam, wa shallallaahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihii wa shahbihi wa sallam.


Senin, 21 April 2008 13:11:05 WIB

Oleh :
Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari

Rabu, 21 Januari 2009

“Hindu pun Tolak Pluralisme Agama”

Penganut agama Hindu ternyata juga menolak paham ‘Pluralisme Agama’. Paham ini, katanya, sebagai ‘Universalisme Radikal’. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-160

Oleh: Adian Husaini


Beberapa hari lalu saya menerima kiriman sebuah buku menarik dari seorang teman di Bali berjudul ”Semua Agama Tidak Sama”, terbitan Media Hindu tahun 2006. Buku yang berisi kumpulan tulisan sejumlah tokoh dan cendekiawan Hindu ini secara tajam mengupas dan mengritisi paham Pluralisme Agama yang biasanya dengan sederhana diungkapkan dengan ungkapan ‘’semua agama adalah sama’’. Buku ini diberi pengantar oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), yang merupakan induk umat Hindu di Indonesia.

Memang, kaum Pluralis Agama dari berbagai penganut agama sering mengutip ucapan sebagian tokoh agama Hindu untuk mendukung pendapat mereka. Sukidi, misalnya, seorang propagandis Pluralisme Agama yang sedang kuliah di Harvard, menulis dalam satu artikel di media massa, bahwa “Mahatma Gandhi pun seirama dengan mendeklarasikan bahwa semua agama – entah Hinduisme, Buddhisme, Yahudi, Kristen, Islam, Zoroaster, maupun lainnya- adalah benar. Dan, konsekuensinya, kebenaran ada dan ditemukan pada semua agama. Agama-agama itu diibaratkan, dalam nalar pluralisme Gandhi, seperti pohon yang memiliki banyak cabang (many), tapi berasal dari satu akar (the One).

Akar yang satu itulah yang menjadi asal dan orientasi agama-agama.’’ (Jawa Pos, 11 Januari 2004). Dalam paparannya tentang Hinduism dari bukunya, The World’s Religions (New York: Harper CollinsPubliser, 1991), Prof. Huston Smith juga menulis satu sub-bab berjudul “Many Paths to the Same Summit” (Banyak jalan menuju puncak yang sama). Huston Smith menulis, bahwa Sejak dulu, kitab-kitab Veda menyatakan pandangan Hindu klasik, bahwa agama-agama yang berbeda hanyalah merupakan bahasa yang berbeda-beda yang digunakan Tuhan untuk berbicara kepada hati manusia. Kebenaran memang satu; orang-orang bijak menyebutnya dengan nama ang berbeda-beda).

Untuk memperkuat penjelasannya tentang sikap ‘Pluralistik’ agama Hindu, Huston Smith juga mengutip ungkapan ‘orang suci Hindu’ abad ke-19, yaitu Ramakrishna, yang mencari Tuhan melalui berbagai agama: Kristen, Islam, dan Hindu. Hasilnya, menurut Ramakrishna, adalah sama saja. Maka ia menyatakan: “Tuhan telah membuat agama-agama yang berbeda-beda untuk memenuhi berbagai aspirasi, waktu, dan negara. Semua doktrin hanyalah merupakan banyak jalan; tetapi satu jalan tidak berarti Tuhan itu sendiri. Sesungguhnya, seseorang dapat mencapai Tuhan jika ia mengikuti jalan mana saja dengan sepenuh hati).

Penjelasan-penjelasan tentang agama Hindu yang dilakukan oleh berbagai kalangan Pluralis Agama, tampaknya membuat kaum Hindu merasa ‘gerah’ dan tidak tenang. Maka, mereka pun melakukan perlawanan, dengan membantah pendapat-pendapat kaum Pluralis Agama.

Salah satu buku yang secara keras membantah paham Pluralisme Agama, adalah buku Semua Agama Tidak Sama, terbitan Media Hindu tahun 2006. Dalam buku ini paham Pluralisme Agama disebut sebagai paham ‘Universalisme Radikal’ yang intinya menyatakan, bahwa “semua agama adalah sama”. Buku ini diberi kata pengantar oleh Parisada Hindu Dharma, induk umat Hindu di Indonesia.

Editor buku ini, Ngakan Made Madrasuta menulis kata pengantarnya dengan judul “Mengapa Takut Perbedaan?” Ngakan mengkritik pandangan yang menyamakan semua agama, termasuk yang dipromosikan oleh sebagian orang Hindu Pluralis yang suka mengutip Bagawad Gita IV:11:

“Jalan mana pun yang ditempuh manusia ke arah-Ku, semuanya Aku terima.”

Padahal, jelas Ngakan: “Yang disebut “Jalan” dalam Gita adalah empat yoga yaitu Karma Yoga, Jnana Yoga, Bhakti Yoga, dan Raja Yoga. Semua yoga ini ada dalam agama Hindu, dan tidak ada dalam agama lain. Agama Hindu menyediakan banyak jalan, bukan hanya satu – bagi pemeluknya, sesuai dengan kemampuan dan kecenderungannya.”

Bagian pertama buku ini memuat tulisan Giridhar Mamidi yang diberi judul “Semua Agama Sederajat? Semuanya Mengajarkan Hal Yang Sama?”. Di sini, penulis berusaha membuktikan bahwa semua agama tidaklah sama. Hanyalah orang-orang Hindu yang suka menyatakan, bahwa semua agama adalah mengajarkan hal-hal yang sama.

Bahkan, Bharat Ratna Bhagavandas menulis satu buku berjudul “The Essential Unity of Religions” (Kesatuan Esensial dari Semua Agama). Mahatma Gandhi pun mendukung gagasan ini.

Dr. Frank Gaetano Morales, seorang cendekiawan Hindu, mengecam keras orang-orang Hindu yang menyama-nyamakan agamanya dengan agama lain. Biasanya kaum Hindu Pluralis menggunakan “metafora gunung” (mountain metaphor), yang menyatakan: “Kebenaran (atau Tuhan atau Brahman) berada di puncak dari sebuah gunung yang sangat tinggi. Ada berbagai jalan untuk mencapai puncak gunung, dan dengan itu mencapai tujuan tertinggi. Beberapa jalan lebih pendek, yang lain lebih panjang. Jalan itu sendiri bagaimana pun tidak penting. Satu-satunya yang sungguh penting, adalah para pencari semua mencapai puncak gunung itu.”

Morales menjelaskan, bahwa tidak setiap agama membagi tujuan yang sama, konsepsi yang sama mengenai ‘Yang Absolut’, atau alat yang sama untuk mencapai tujuan mereka masing-masing. Tapi, ada banyak ‘gunung’ filosofis yang berbeda-beda, masing-masing dengan klaim mereka yang sangat unik untuk menjadi tujuan tertinggi upaya spiritual seluruh manusia.

Universalisme Radikal – yang menyatakan bahwa semua agama adalah sama – adalah doktrin yang sama sekali tidak dikenal dalam agama Hindu tradisional.

Menurut Morales, gagasan persamaan agama dalam Hindu menjadi populer saat disebarkan oleh sejumlah tokoh Hindu sendiri. Ia menyebut nama Ram Mohan Roy (1772-1833) yang dikenal dengan ajaran-ajarannya yang sinkretik. Roy yang juga pendiri Brahmo Samaj, dipengaruhi ajaran-ajaran Gereja Unitarian, sebuah sekte atau denominasi agama Kristen heterodoks.

Sebagai tambahan mempelajari agama Kristen, Islam, dan Sansekerta, dia belajar bahasa Ibrani dan Yunani dengan impian untuk menerjemahkan Bibel dalam bahasa Bengali. Ia mengaku sebagai ‘pembaru Hindu’ dan memandang agama Hindu melalui kaca mata kolonial Kristen yang telah dibengkokkan. Lebih jauh Morales menulis:

“Kaum misionaris Kristen memberi tahu Roy bahwa agama Hindu tradisional adalah satu agama barbar yang telah menimbulkan penindasan, ketahyulan, dan kebodohan kepada rakyat India. Dia mempercayai mereka… Dalam semangat misionaris untuk mengkristenkan agama Hindu, kaum ‘pembaru’ Hindu ini bahkan menulis satu traktat anti-Hindu dikenal sebagai The Precepts of Jesus: The Guide to Peace and Happiness (Ajaran-ajaran Yesus: Penuntun kepada Kedamaian dan Kebahagiaan). Dari kaum misionaris Kristen ini secara langsung Roy mendapat bagian terbesar dari ide-idenya, termasuk ide anti-Hindu mengenai kesamaan radikal dari semua agama.”

Pengganti Roy berikutnya adalah Debendranath Tagore dan Kashub Chandra Sen, yang mencoba menggabungkan lebih banyak lagi ide-ide Kristen ke dalam neo-Hinduisme. Sen bahkan lebih jauh lagi meramu kitab suci Brahmo Samaj yang berisi ayat-ayat dari berbagai tradisi agama yang berbeda, termasuk Yahudi, Kristen, Islam, Hindu dan Budhis. “Dengan kejatuhan Sen ke dalam kemurtadan anti-Hindu dan megalomania, gerakan ini menurun secara drastis dalam pengaruh pengikutnya,” tulis Morales. Pada abad ke-19, muncul dua tokoh Universalis Radikal dari Hindu, yaitu Ramakrisna (1836-1886) dan Vivekananda (1863-1902).

Disamping dipengaruhi oleh akar-akar tradisi Hindu, Ramakrishna juga meramu ide dan praktik ritualnya dari agama-agama non-Vedic, seperti Islam dan Kristen Liberal. Sekalipun tetap melihat dirinya sebagai seorang Hindu, Ramakrishna juga sembahyang di masjid-masjid dan gereja-gereja dan percaya bahwa semua agama ditujukan pada tujuan tertinggi yang sama.

Gagasan Ramakrishna dilanjutkan oleh muridnya yang sangat terkenal, yaitu Swami Vivekananda. Tokoh ini dikenal besar sekali jasanya dalam mengkampanyekan agama Hindu di dunia internasional. Tetapi, untuk menyesuaikan dengan unsur-unsur modernitas, Vivekananda juga melakukan usaha yang melemahkan agama Hindu otentik dari leluhur mereka dan mengadopsi ide-ide asing seperti Universalisme Radikal, dengan harapan memperoleh persetujuan dari tuan-tuan Eropa yang memerintah mereka ketika itu.

Vivekananda mengadopsi gagasan semacam Universalisme Radikal yang bersifat hirarkis yang mendukung kesederajatan semua agama, sementara pada saat yang bersamaan mengklaim bahwa semua agama sesungguhnya sedang berkembang dari gagasan religiositas yang lebih rendah menuju satu mode puncak tertinggi, yang bagi Vivekananda ditempati oleh Hindu. Morales mencatat : ‘’Sekalipun Vivekananda memberi kontribusi besar untuk membantu orang Eropa dan Amerika nin-Hindu untuk memahami kebesaran agama Hindu, Universalisme Radikal dan ketidakakuratan neo-Hindu yang ia kembangkan juga telah mengakibatkan kerusakan besar.’’

Pada akhirnya Morales menyimpulkan, bahwa gagasan Universalisme Radikal yang dikembangkan oleh sementara kalangan Hindu adalah sangat merugikan agama Hindu itu sendiri. Ia menulis : “Ketika kita membuat klaim yang secara sentimental menenangkan, namun tanpa pemikiran bahwa “semua agama adalah sama”, kita sedang tanpa sadar mengkhianati kemuliaan dan integritas dari warisan kuno ini, dan membantu memperlemah matrix filosofis/kultural agama Hindu sampai pada intinya yang paling dalam. Setiap kali orang Hindu mendukung Universalisme Radikal, dan secara bombastik memproklamasikan bahwa “semua agama adalah sama”, dia melakukan itu atas kerugian besar dari agama Hindu yang dia katakan dia cintai.”

Dengan terbitnya buku ‘’Semua Agama Tidak Sama’’ dari kalangan Hindu ini, maka kita melihat, sudah empat agama yang secara tegas menolak paham Pluralisme Agama, yaitu Katolik, Protestan, Hindu, dan Islam.

Tahun 2000, Paus Yohanes Paulus II sudah menolak paham Pluralisme Agama dengan mengeluarkan Dekrit ‘Dominus Jesus’. Dari kalangan Protestan di Indonesia juga muncul penolakan keras terhadap paham ini, dengan keluarnya buku Dr. Stevri Indra Lumintang berjudul ‘’Theologia Abu-Abu: Tantangan dan Ancaman Racun Pluralisme dalam Teologi Kristen Masa Kini, (Malang: Gandum Mas, 2004).

Dari umat Islam, Majelis Ulama Indonesia, melalui fatwanya tanggal 29 Juli 2005 juga telah menyatakan bahwa paham Pluralisme Agama bertentangan dengan Islam dan haram umat Islam memeluk paham ini. MUI mendefinisikan Pluralisme Agama sebagai suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga. Dr. Anis Malik Thoha, pakar Pluralisme Agama, yang juga Rois Syuriah NU Cabang Istimewa Malaysia, mendukung fatwa MUI tersebut dan menyimpulkan bahwa Pluralisme Agama memang sebuah agama baru yang sangat destruktif terhadap Islam dan agama-agama lain.

Dengan keluarnya buku ‘’Semua Agama Tidak Sama’’ dari kalangan Hindu, maka sudah semakin jelas, bahwa paham Pluralisme Agama memang merupakan racun, virus, atau parasit bagi agama-agama yang ada. Sebab, paham ini memang tidak mengakui kebebaran mutlak satu agama.

Kaum Pluralis ingin menciptakan satu teologi global atau universal (global theologi), menggantikan keyakinan khas dari masing-masing pemeluk agama. Jadi, Pluralisme Agama adalah musuh bersama agama-agama. Maka, aneh, jika ada orang yang mengaku sebagai pemeluk agama tertentu, tetapi pada saat yang sama dia mengaku pluralis agama. Jika ada yang mengaku seperti itu, maka ada dua kemungkinan, pertama : tidak tahu atau tertipu, dan yang kedua : sengaja ingin merusak agama. Wallahu a’lam. (Jakarta, 1 September 2006/www.hidayatullah.com).

Rabu, 07 Januari 2009

Sebuah Tanya Kepada Semua Apa Itu Cinta…???

“Cinta”. Ya kata inilah yang selalu q dengar kemana saja arah kaki melangkah, kemana saja busur mata memandang dan kemana saja tarian mulut berbicara bahkan letih juga kalee telinga ini mendengar satu kata itu...! ada satu pertanyaan dalam hati kecil q, apakah benar setiap apa yang kulihat dan kudengar tersebut adalah benar cinta adanya...hal ini pula yang q coba tanya kepada siapa saja yang melihat coretan yang belum tentu layak ini.
Benarkah setiap insan yang bercumbu tanpa mengindahkan norma ditengah keramaian, disetiap kaki ini melangkah adalah cinta...? benarkah pula setiap dari mereka yang berbicara sajak dan puisi layaknya pujangga adalah pencinta yang sesungguhnya atau benarkah juga setiap dari mereka yang mencoba mendengar setiap bait untaian kata mesra adalah pencinta pula ataukah dari kesekian mereka hanyalah aktor yang merekayasa setiap bait dari kata “cinta”, berakting dengan alur skenario western yang selalu mengatas namakan cinta yang pada esensinya para pelakon tersebut hanyalah korban dari budaya yang mereka sendiri tak mengerti kemana arah dan jalannya berujung.
Dilema memang...! disatu sisi aq dan teman2 yang masih tergolong remaja tanpa harus menafikan diri juga menginginkan hal itu, tapi disisi lain sebagai insan yang masih memiliki akal dan hati untuk memilih aq dan mungkin juga teman2 masih memiliki sedikit motivasi untuk mencari esensi dari cinta yang sebenarnya. Aq pun tak tau apakah mereka yang banyak itu tergolong yang benar dalam mengartikan cinta ataukah cinta itu seperti yang telah q lihat dalam “Ayat-ayat Cinta” dan buku2 yang mendekatkan sayang q kepada sang pencipta melalui insannya yang q suka tanpa harus memberinya noda sebelum ikrar q dengannya.
Ya...biarlah aq dan teman2 q ini mencari dan terus mencari hingga arti “Cinta” yang sesungguhnya kami temukan.

Siapa Aku...?


Menurut saya, aku sejati adalah jati diri kita (berupa eksistensi) yang sesungguhnya yang ada dahulu, sekarang dan yang akan datang. Setiap orang memiliki jati diri yang mempunyai keunikannya masing- masing. Kata "keunikan" ini sengaja dipakai untuk menggantikan kata "kelebihan dan kekurangan" agar kita tidak terjebak dalam pandangan untuk saling membandingkan. Keunikan jati diri masing-masing ini adalah merupakan hasil dari proses-proses terdahulunya dan merupakan awal dari proses kedepan yang juga tidak perlu dibandingkan dan dinilai berlebihan, akan tetapi haruslah dipahami dan disadari sepenuhnya.

Justru Siu Tao ( ) itu tujuan pokoknya adalah untuk meningkatkan kualitas dari "Aku Sejati" kita masing-masing. Maka alangkah ironisnya jika kita Siu Tao ( ), tetapi tidak tahu dulu apa dan bagaimana "Aku Sejati" kita masing-masing ?!?

Bagi seorang yang praktis dan simpel, apalagi yang sudah memiliki dasar-dasar pengertian mengenai konsep Tao yang relatif cukup kuat memang akan lebih mudah menangkap pengertian dan mencernanya sehingga dapat membayangkan dan mempersepsikan apakah AKU SEJATI itu.

Tetapi tentunya wajar dan sangat manusiawi jika seorang yang belum mengerti menjadi semakin bingung dan tidak mengerti apa dan bagaimanakah AKU SEJATI itu sebenarnya, apalagi jika dalam pembahasan dan penjelasan-penjelasannya banyak menggunakan bahasa dan istilah-istilah yang cenderung membingungkan . Contohnya ada Nyawa, Roh, Jiwa, Sukma, Hati, Hati Nurani, Kesadaran, Bawah Sadar, Mental, Aku Sejati, Yensen, Linghuen, Sin, Sing dan lain-lainnya.

Pada dasarnya pemikiran pokok dalam penulisan ini bukanlah mau membahas dan memperdebatkan semua istilah dan kata-kata diatas. Adapun saya lebih cenderung untuk mengajak pembaca berpikiran praktis dan simpel dalam permasalahan merevisi diri dengan titik tolak pengenalan diri (katakanlah "Aku Sejati") yang lebih dipandang dari sudut psikologi modern yaitu dengan mengenal kepribadian diri kita masing-masing untuk kemudian melangkah kedalam suatu usaha pengontrolan dan perbaikan kepribadian kearah yang lebih positif.

Hal ini menurut saya mungkin lebih relevan, jelas dan lebih bermanfaat sebelum kita berbicara terlalu jauh dalam keabstrakan yang sangat dalam.

Secara singkat dapat saya utarakan bahwa hal - hal yang harus dapat kita kenali dari diri kita adalah sebagai berikut:

* Sifat - sifat dan karakter

Setiap orang pasti membawa sifat-sifat dan karakternya sendiri-sendiri, setiap orang walaupun bisa saja ada kemiripan tapi tidak pernah ada yang sama persis dalam hal ini.

Menurut saya sebenarnya sifat-sifat dan karakter dalam diri seseorang ini tidak ada batasan "baik-buruknya" karena bagaikan "rasa dan aroma dalam setiap masakan saja", hanya saja kalau banyak orang yang dapat menerima dan menyenangi maka dianggap "baik" sedangkan kalau banyak orang tidak dapat menerima dan tidak suka maka dinilai "tidak baik". Tentu pada akhirnya mau tidak mau harus "ada penilaian", yang mana sebagai kaum Siu Tao ( ) kitapun tidak bisa terlepas dan sudah sewajarnya berusaha mengejar nilai-nilai berlaku yang baik.

* Hasrat dan keinginan

Setiap orang pasti memiliki hasrat dan keinginannya masing-masing, yang biasanya adalah merupakan refleksi dari sebuah bentuk ideal / cita-cita yang awalnya bersumber dari ego. Dalam bentuk yang paling sederhana dan murni bisa disimpulkan bahwa ego semua manusia itu pada dasarnya adalah "baik" karena secara alamiah bersumber dari "survival spirit" (naluri mempertahankan hidup). Sehingga setiap manusia selalu bermotivasi untuk mempertahankan hidupnya serta terus mengembangkan hidup ke kondisi yang semakin baik dan jauh dari resiko - resiko kesusahan baik secara fisik maupun mental.

Nah, karena begitu kompleknya keadaan yang ada maka akhirnya latar belakang dan kesempatan yang ada pada seseorang akan berbeda dengan orang lainnya. Hal ini pulalah yang kemudian harus bisa juga dipahami dan disadari sehingga kita bisa benar-benar menyatu dengan hasrat dan keinginan kita sesuai kealamiahannya masing-masing (hasrat dan keinginan ini saya anggap sebagai suatu daya pendorong gerak yang sangat murni dan tulus). Tetapi tentunya keadaan sosial tetap harus dijadikan rambu-rambu keseimbangan geraknya.

* Kemampuan

Penguasaan terhadap suatu hal yang merupakan ciri khas seseorang yang dimiliki dan didapat secara dan dalam kealamiahannya masing - masing, haruslah terus digali dan dikembangkan serta dipergunakan secara positif demi kepentingan kebaikan yang semakin luas semakin baik. Dalam hal ini yang namanya kemampuan itu, normalnya memang akan selalu terasa kurang bagi semuanya, karena adanya kondisi persaingan yang semakin mengetat.

Oleh karena itu jika bisa mengenal kemampuan diri maka secara lebih gampang pula kita dapat terus mengembangkannya sehingga mencapai suatu level yang relatif tinggi. Biasanya kemampuan seseorang itu berupa wawasan, pengetahuan, kepandaian dan keahlian, yang merupakan hasil dari perpaduan antara intelegensi dan emosi melalui proses belajar (baik sekolah maupun otodidak) serta pengalaman-pengalaman sepanjang hidupnya.

Dari sini, maka kita dapat disimpulkan bahwa "belajar" dan "berlatih" adalah dua hal pokok yang sangat berperan dalam usaha meningkatkan kemampuan diri.

* Ketidakmampuan & keterbatasan

Diluar kemampuan yang ada, maka adalah hal yang alami pula bahwa setiap insan didunia ini selalu diliputi juga oleh ketidakmampuan dan keterbatasan (sengaja penulis tidak menggunakan kata "kelemahan" untuk memberikan nuansa optimisme).

Adapun merupakan hal yang juga tidak kalah pentingnya dalam proses pengenalan diri kita masing-masing untuk justru lebih mengenal ketidakmampuan dan keterbatasan yang ada dengan motif untuk memperbaiki dan merubahnya sebisa mungkin sehingga menjadi faktor yang bahkan dapat diandalkan. Dalam masalah ini memang kemauan dan usaha keras secara konsisten mutlak diperlukan , karena biasanya untuk dapat bisa "mengakui" bahwa kita mempunyai ketidakmampuan dan keterbatasan saja sudah sangat sulit (karena harus melawan ego dan kesombongan kita) apalagi untuk merubahnya.

Modal dasar utama yang diperlukan untuk mengatasi hal ini adalah kejujuran dan keterbukaan. Akan tetapi dilain sisi, jangan pula kita sampai terjerumus dan terseret arus pola berpikir pesimis yang akhirnya justru membesar-besarkan faktor ketidakmampuan dan keterbatasan yang ada menjadi senjata dan alasan untuk meng "cover" semua hal dalam kehidupan ini yang memang sulit dan berat bagi siapapun.

* Latar belakang

Latar belakang bisa dianggap sebagai akar dari semua perkembangan yang timbul dan ada sekarang ini bagi siapapun juga. Walau kita pada akhirnya memang tidak perlu mempermasalahkan tapi bisa memahami latar belakang dari diri kita sedikit banyak dapat berguna untuk mengetahui siapa dan bagaimana diri kita yang sesungguhnya.

Oleh karena itu pula dalam metode-metode pengembangan kepribadian yang paling modern sekalipun, pemanfaatan latar belakang diri seseorang sebagai alat refleksi diri untuk membangkitkan pemicu semangat kearah yang lebih efektif masih sangat ampuh dan bermanfaat. Didalam hal ini kita sebagai seorang insan Tao modern yang proaktif tentunya diharapkan juga dapat memahami dan menyadari hal tersebut, sehingga dapat memandang diri sekarang ini secara komprehensif sebagai suatu hasil dari proses-proses terdahulu yang berkesinambungan untuk dijadikan landasan kearah depan yang lebih baik dan semakin baik.

Bagi sebagian orang mengenali diri sendiri mungkin adalah masalah yang mudah tapi umumnya sebagian besar orang menganggap adalah masalah yang sukar dan sulit. Secara pribadi saya sendiri berpendapat bahwa mengatasi proses pengenalan diri sendiri ini memang bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah dan gampang. Permasalahan utama yang sering timbul dan menghambat kita untuk dapat mengenali diri kita ini adalah kemampuan diri untuk berdiri secara "jujur, obyektif dan adil" dalam memberikan pandangan terhadap diri sendiri.

Nah, dalam kenyataannya memang hal inilah yang justru jarang bisa dilakukan oleh setiap orang . Akhirnya proses mengenali diri sendiri ini memang akan menjadi sangat sulit dan membingungkan karena faktor ketidak jujuran, ketidak obyektifan dan ketidak adilan dalam memandang diri itu sendirilah yang harus bisa disadari dan diperbaiki (revisi).

Kuatkan Kerjasama Laksana Satu Bangunan

Manusia pada hakekatnya makhluk sosial, saling membutuhkan untuk memenuhi keperluannya dan meningkatkan taraf hidupnya. Fitrah inilah yang ditegaskan oleh Islam. Islam memerintah kan untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan manfaat.

Lebih lagi terhadap sesama umat muslim. Bahkan Islam mengibaratkan persaudaraan dan pertalian sesama muslim itu seperti satu bangunan, di mana struktur dan unsur bangunan itu saling membutuhkan dan melengkapi, sehingga menjadi sebuah bangunan yang kokoh, kuat dan bermanfaat lebih.

Rasulullah saw. bersabda:

عن أبي موسى الأشعري ـ رضي الله عنه ـ عن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ قال : ” المؤمن للمؤمن كالبنيان ، يشد بعضه بعضاً ، ثم شبك بين أصابعه ، وكان النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ جالساً ، إذ جاء رجل يسأل ، أو طالب حاجة أقبل علينا بوجهه ، فقال : اشفعوا تؤجروا ، ويقضي الله على لسان نبيه ما شاء ” . رواه البخاري ، ومسلم ، والنسائي

Dari Abu Musa Al Asy’ari ra. dari Nabi Muhammad saw bersabda:

“Orang mukmin itu bagi mukmin lainnya seperti bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. Kemudian Nabi Muhammad menggabungkan jari-jari tangannya. Ketika itu Nabi Muhammad duduk, tiba-tiba datang seorang lelaki meminta bantuan. Nabi hadapkan wajahnya kepada kami dan bersabda: Tolonglah dia, maka kamu akan mendapatkan pahala. Dan Allah menetapkan lewat lisan Nabi-Nya apa yang dikehendaki.” Imam Bukhari, Muslim, dan An Nasa’i.

Penjelasan:

Abu Musa, bernama asli Abdullah bin Qais.

المؤمن للمؤمن Sebagian mukmin atas sebagian mukmin lainnya, كالبنيان adalah seperti bangunan.

يشد بعضه بعضاً Sisi kesamaannya dengan bangunan adalah pada sikap saling menopang. ثم شبك بين أصابعه Inilah penjelasan tentang kemiripan keadaan kaum mukminin yang saling menguatkan.

Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa siapapun yang ingin memberi penjelasan lebih detail dalam berbicara dapat menggunakan gerakan atau peragaan, agar lebih mudah dipahami dan berkesan dalam hati.

وكان النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ جالساً ، إذ جاء رجل يسأل ، أو طالب حاجة Ketika itu Nabi Muhammad duduk, tiba-tiba datang seorang lelaki meminta bantuan. Penggabungan kata thalib dengan haajah, dalam riwayat lain: kata thalib dibaca tanwin dan hajatan dibaca nashab (fathahatain).

أقبل علينا بوجهه Rasulullah saw. menghadapkan wajah mulianya kepada kami, lalu bersabda: اشفعوا tolonglah keperluan orang yang meminta bantuan ini, dengan kebaikan, maka تؤجروا kalian akan mendapatkan balasan. Firman Allah swt.:

“Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. dan barangsiapa memberi syafa’at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” An Nisa’: 85

At Thabrani meriwayatkan dengan sanad shahih dari Mujahid berkata: “Ayat di atas berbicara tentang tolong menolong sesama manusia. Kesimpulan maknanya adalah bahwa orang yang memberikan pertolongan kepada orang lain, maka ia mendapatkan bagian kebaikan, dan barang siapa tolong menolong dalam kebatilan maka ia mendapatkan bagian dosa.

Syafaat hasanah yang disebutkan dalam ayat di atas adalah pertolongan dalam kebaikan, melindungi hak sesama muslim, menghilangkan keburukan atau mendapatkan kebaikan, mencari ridha Allah, tidak ada risywah atau suap. Pada masalah yang mubah atau boleh atau tidak terlarang, tidak untuk menggagalkan salah satu had atau hukum pidana yang telah Allah tetapkan, tidak pula untuk menghilangkan hak orang lain.

Qadhi Iyadh berkata: Tidak ada pengecualian dari ruang pertolongan yang dianjurkan kecuali dalam masalah had atau pidana yang telah Allah tetapkan. Maka dalam masalah yang tidak ada ketentuan had terutama bagi orang yang tidak sengaja, dan dikenal sebagai orang bersih, pertolongan sangat dianjurkan. Selanjutnya ia mengatakan: Adapun bagi orang yang terbiasa dengan tindakan destruktif, terkenal sebagai ahlul bathil maka tidak berlaku syafaat bagi mereka, agar dapat menjadi pencegah kemaksiatannya.

Ungkapan Iyadh ini didukung oleh riwayat Imam Bukhari dan Muslim dalam kitab shahihnya dari Aisyah ra.

” أن قريشاً أهمهم شأن المرأة المخزومية التي سرقت في عهد النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ فقالوا : من يكلم فيها رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ؟ فكلمه أسامة ،فقال رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم -أتشفع في حد من حدود الله تعالى ؟ ثم قام فخطب ، ثم قال : إنما أهلك من كان قبلكم أنهم كانوا إذا سرق فيهم الشريف تركوه ، وإذا سرق فيهم الضعيف أقاموا عليه الحد ، وأيم الله لو أن فاطمة بنت محمد سرقت لقطعت يدها “

“Bahwa suku Quraisy disibukkan oleh seorang wanita dari Bani Mahzum yang mencuri pada masa Rasulullah saw. Lalu mereka mencari siapa yang bisa berbicara dengan Rasulullah saw. Maka Usamah menyampaikan hal ini kepada Rasulullah saw. Rasulullah saw bersabda: Apakah kamu hendak memberi pertolongan dalam hukum pidana Allah? Kemudian Rasulullah berdiri dan berkhutbah: “Sesungguhnya hancurnya umat sebelum kalian adalah bahwa mereka itu jika ada orang mulia yang mencuri mereka biarkan, dan jika ada orang yang lemah mencuri mereka tegakkan hukum pidana. Demi Allah, jika Fatimah binti Muhammad mencuri maka akan aku potong tangannya.”

ويقضي الله على لسان نبيه ما شاء Dan Allah menetapkan lewat lisan Nabi-Nya apa yang dikehendaki, artinya meluluskan hajat atau tidak meluluskannya adalah ketentuan dan takdir Allah.

Dari hadits ini dapat diambil pelajaran, di antaranya:

1. Keutamaan tolong menolong antara sesama mukmin, saling menguatkan satu dengan yang lain dengan pertolongan pada hal-hal yang berguna dan bermanfaat. Rasulullah saw telah bersabda: المؤمن للمؤمن كالبنيان

2. Anjuran kepada kebaikan dengan dikerjakan langsung, atau memfasilitasinya. Rasulullah saw menganjurkan syafaat atau memfasilitasi orang lain untuk berbuat baik.

3. Syafaat ditujukan kepada pembesar atau pembuat kebijakan untuk menghilangkan kesulitan, memberi manfaat dan membantu yang lemah. Sebab tidak semua orang dapat berkomunikasi dengannya, dan mampu mendesaknya, atau menjelaskan keinginannya. Pernah ada orang yang meminta syafaat atau pertolongan kepada Rasaulullah saw. -padahal beliau tidak pernah menolak seorangpun- namun beliau menawarkan kepada para sahabatnya untuk membantu orang tersebut. Allahu a’lam

dakwatuna.com

Pertanyaan Imam Gazali


Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau bertanya (Teka Teki ) :

Imam Ghazali = " Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini ?
Murid 1 = " Orang tua "
Murid 2 = " Guru "
Murid 3 = " Teman "
Murid 4 = " Kaum kerabat "
Imam Ghazali = " Semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati ( Surah Ali-Imran :185).

Imam Ghazali = " Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini ?"
Murid 1 = " Negeri Cina "
Murid 2 = " Bulan "
Murid 3 = " Matahari "
Murid 4 = " Bintang-bintang "
Iman Ghazali = " Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama sebelum menyesal".

Iman Ghazali = " Apa yang paling besar didunia ini ?"
Murid 1 = " Gunung "
Murid 2 = " Matahari "
Murid 3 = " Bumi "
Imam Ghazali = " Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A'raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka."

IMAM GHAZALI" Apa yang paling berat didunia? "
Murid 1 = " Baja "
Murid 2 = " Besi "
Murid 3 = " Gajah "
Imam Ghazali = " Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah."

Imam Ghazali = " Apa yang paling ringan di dunia ini ?"
Murid 1 = " Kapas"
Murid 2 = " Angin "
Murid 3 = " Debu "
Murid 4 = " Daun-daun"
Imam Ghazali = " Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali didunia ini adalah MENINGGALKAN SOLAT (Surah al-Ma'un (4-7). Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan solat "

Imam Ghazali = " Apa yang paling tajam sekali di dunia ini? "
Murid- Murid dengan serentak menjawab = " Pedang "
Imam Ghazali = " Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA (Surah 2:217). Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri "

"sampaikanlah walau satu ayat"..

Selasa, 06 Januari 2009

Filsafat Bolak-Balik

Sepertinya bukan filsafat, mungkin orang Jawa akan lebih suka menyebutnya dengan gothak-gathuk mathuk. Tapi apa pun istilahnya, mungkin hal ini dapat digunakan sebagai bahan renungan sebelum tidur. Berikut petikannya yang saya ambil dari milis KPP-Indonesia.


Filsafat Bolak-Balik

Masih muda, korbankan kesehatan cari harta.
Sudah tua, korbankan harta cari kesehatan

Karena harta, orang asing menjadi seperti saudara.
Karena harta, saudara menjadi seperti orang asing.

Orang kaya mampu beli ranjang enak,
tapi gak bisa tidur enak (stress...euiii)
Orang miskin gak mampu beli ranjang enak,
tapi bisa tidur enak (capek jadi kuli...)

Orang kaya punya duit buat foya-foya,
tapi gak punya waktu.
Orang miskin punya waktu buat foya-foya,
tapi gak punya duit.

Masih muda, pengen jadi kaya biar nikmatin kekayaan,
Udah kaya, gak punya waktu buat nikmatin kekayaan.
Sekali punya waktu buat nikmatin kekayaan,
udah keburu tua gak ada tenaga...

Bersyukurlah dan nikmati apa yang sudah kita dapat !!

(sumber : milis KPP-Indonesia)

Betapa Beratnya Sholat

Untuk melakukan sholat tidak sampai 5 menit sudah selesai atau paling lama 10 menit, namun kenapa untuk melakukannya terasa sangat berat, seperti ada yang “menggondeli” lutut saya ini. Padahal menghadap laptop, saya kuat berjam-jam hanya untuk nge-blog, browsing, atau chatting, bahkan kalau tidak ingat kewajiban sebagai suami, saya pun kuat untuk tidak “ketemu” isteri saya, ha,.. ha,..


Pekerjaan saya yang menuntut harus tinggal jauh dari isteri terkadang membuat saya ingin berbuat semaunya sendiri, termasuk berlama-lama di depan laptop dan hampir selalu “lupa” kewajiban terhadap sang Khalik (pencipta alam). Di tempat kost yang kebetulan saya diizinkan tinggal di rumah dinas bersama bos saya, tidak ada yang “berani” “ngarohi” (mengingatkan) akan kewajiban ini, termasuk bos saya yang kebetulan satu angkatan, mungkin beliau sungkan terhadap saya. Pikir beliau, masak sudah “daplok” (sudah tua) masih harus diberitahu.


Namun terkadang saya merasa “ewuh” (sungkan) terhadap bos saya sehingga suatu saat saya kadang-kadang menjadi rajin sholat walaupun masih sering tidak tepat waktu. Sudah mau sholat saja sudah bagus, kok, kalau pun masih terlambat atau tidak tepat waktu, ya dimaklumi saja, he he.


Begitu pula jika pulang ke rumah pada hari Minggu (libur), saya sering mendapat teguran dari isteri jika tidak mengerjakan sholat, ya akhirnya jadi “agak” rajin sholat. Takut anak-anak kami mencontoh kelakuan saya yang tidak mengerjakan sholat.


Walaupun awalnya dari rasa ewuh dan sungkan, semoga sholat saya menjadi lebih baik dari yang kemarin-kemarin, mohon doanya saja dari pengunjung. Namun doa saja dari pengunjung tidak akan berarti apa-apa jika saya sendiri tidak mau berusaha, he he


Walaupun saya sendiri bukan ahli sholat, tidak ada salahnya untuk memberikan tips agar tidak malas untuk mengerjakannya. Jika ada yang kurang pas, mohon para pengunjung untuk dapat menambahkan pada kolom komentar.


Berikut tips-tips agar rajin sholat.

* Setiap kali waktu sholat tiba, segera ambil air wudhu dan dilanjutkan dengan sholat
* Jika memungkinkan, pergilah ke masjid untuk berjamaah dan ini akan menghilangkan rasa malas untuk sholat.
* Jika harus kost atau kontrak rumah karena tuntutan pekerjaan, carilah tempat kost atau kontrak rumah yang lokasinya berdekatan dengan masjid dan carilah pemilik kost atau teman kost yang rajin atau taat beribadah, setidaknya seperti bos saya yang rajin sholat.
* Pandai-pandailah mengatur jadual kegiatan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu waktu sholat.
* Tanamkan dalam hati bahwa sholat itu kebutuhan untuk rohani bukan kewajiban seperti kebutuhan akan makan dan minum untuk jasmani kita.
* Terakhir, berdoalah kepada Allah agar diberikan kekuatan untuk selalu mengerjakan sholat pada waktunya.

# Dari Lain2

Senin, 05 Januari 2009

Membangun Sebuah Hegemoni di Tengah Anarki

Satu nusa…satu bangsa…satu bahasa kita…Tanah Air pasti jaya…untuk slama-lamanya…
Itulah sebait lagu satu nusa satu bangsa yang menunjukkan kepada kita besarnya semangat dan cita-cita pemuda dalam masa pergerakan untuk mewujudkan sebuah negara bernama Indonesia yang bersatu. Pemuda adalah generasi penerus bangsa. Keabsahan slogan ini tidak terbantahkan karena mau tidak mau, sanggup tidak sanggup, pemudalah yang akan menggantikan kedudukan generasi-generasi sebelumnya dalam membangun bangsa.
Islam secara jelas telah mengatakan dalam kitab suci Alqur’anulkarim “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menciptakan (kamu) sesudah itu lemah (kembali) dan berubah. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS : Ar-Ruum 30 : 54).
Merujuk pada ayat di atas Islam mengkategorikan 3 fase kehidupan manusia pertama yaitu keadaan yang lemah (fase anak-anak) kemudian keadaan kuat (fase pemuda) dan yang terakhir kembali kepada keadaan lemah (fase Tua). Secara langsung Islam telah mengatakan, bahwa dalam setiap perubahan dan juga proses beragama, berbangsa dan bernegara pemuda selalu memegang peranan penting dan selalu menjadi leading sector. Jika kita berkaca pada sejarah justru kaum mudalah yang pertama kali mempersatukan bangsa Indonesia tercinta ini, Tercatat paling tidak ada 3 peristiwa penting dalam perjalanan bangsa ini. Yang pertama adalah dengan lahirnya organisasi nasional pertama yaitu Boedi Utomo pada 20 Mei 1908, yang kedua dengan ditandainya Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945.
Dari peristiwa-peristiwa di atas secara mutlak harus diakui kalau pemudalah yang selalu memegang peran dalam setiap proses perubahan. Karena sebuah bait lama mengatakan “Tidak akan ada suatu Bangsa jika tidak ada suatu perubahan, tidak akan ada suatu perubahan jika tidak ada pemuda-pemuda ksatria dan bukanlah pemuda-pemuda ksatria jika tak mempunyai akhlak yang mulia”.
Namun perubahan zaman dari masa kemasa kinipun harus memaksa proses adaptasi pemuda dalam setiap langkah perjuangannya. Bahkan tak jarang kini Demonstrasi merupakan senjata utama bagi pemuda terutama Mahasiswa untuk menyuarakan pendapatnya, tanggapan positif dan juga negatifpun merupakan resiko yang harus dialami Mahasiswa pada saat ini dan tak jarang pula terkadang makian, sumpah serapah menjadi sarapan jiwa yang tak diinginkan!. Tapi ada satu pertanyaan kami kaum pemuda kepada rakyat maupun elite politik bangsa ini, takkah kalian berfikir apa, kenapa dan bagaimana kami bisa melakukan ini semua…?
1. Merupakan Keterpaksaan
Ketika kita berangkat dari sebuah peristiwa maka pasti ada sebuah alasan yang menjadi faktor peristiwa tersebut . Karena pada realitanya tak ada sebuah asap jika tak ada apinya! Konsep ini sama persis dengan yang dialami pemuda Mahasiswa saat ini. Sebuah demonstrasi takkan pernah ada jikalau proses Birokrasi elite politik kita tidak dipersulit dan bertele-tele, saat para wakil rakyat bangsa ini benar-benar mau mendengar jeritan rakyat yang selalu menjadi motivasi kami dalam berdemonstrasi dan saat kampung halaman kami tak digadaikan kepada para Investor yang selalu merusak tatanan kehidupan alam dan sosial kami.
2. Menciptakan Sebuah Hegemoni di Tengah Anarki
Tak pernah disangkal jika demonstrasi tak jarang menghasilkan sebuah tindakan anarki. Namun ada beberapa faktor pada dasarnya yang melatar belakangi hal ini. pertama adalah kehadiran aparat keamanan yang terkadang membuat emosional pendemo meningkat dan berpotensi menjadi sebuah pemicu tindakan anarki, kedua adalah sarana media cetak maupun televisi menjadikannya sebuah alat komunikasi yang paling efekitf saat ini untuk berkomunikasi kepada para wakil rakyat yang senantiasa duduk disinggasana sehingga hal ini pula yang menjadi pilihan anarki harus dilakukan, karena harus diakui atau tidak, hal-hal yang berbau kekerasan merupakan berita yang selalu menjadi Headline bagi media manapun ditanah air ini.
Pada esensinya Hegemoni (isi isu) dalam Anarkism Demonstration (Demonstasi Anarki) itulah yang menjadi faktor pendorong mengapa sebuah demonstrasi saat ini harus dilakukan oleh para pemuda yang dalam hal ini Mahasiswa. Walaupun sebenarnya harus kami akui sangat bertentangan dengan aspek Intelektual yang selalu melekat pada diri kami, namun semua adalah pilihan yang tetap harus dipilih antara beraspirasi dengan Khusnul Khatimah tapi tak didengar atau beraspirasi dengan demonstrasi yang lebih didengar namun menuai kontroversi.
Namun semua mampu berubah dan mungkin begitu juga dengan proses Birokrasi Eksklusif Pemerintah kita saat ini. Salam pemuda...!!!

Apa Itu Syariah Islam....?

Syariat Islam adalah ajaran Islam yang membicarakan amal manusia baik sebagai makluk ciptaan Allah maupun hamba Allah.

Terkait dengan susunan tertib Syari'at, Al Quran Surat Al Ahzab ayat 36 mengajarkan bahwa sekiranya Allah dan RasulNya sudah memutuskan suatu perkara, maka umat Islam tidak diperkenankan mengambil ketentuan lain. Oleh sebab itu secara implisit dapat dipahami bahwa jika terdapat suatu perkara yang Allah dan RasulNya belum menetapkan ketentuannya maka umat Islam dapat menentukan sendiri ketetapannya itu. Pemahaman makna ini didukung oleh ayat dalam Surat Al Maidah QS 5:101 yang menyatakan bahwa hal-hal yang tidak dijelaskan ketentuannya sudah dimaafkan Allah.

Dengan demikian perkara yang dihadapi umat Islam dalam menjalani hidup beribadahnya kepada Allah itu dapat disederhanakan dalam dua kategori, yaitu apa yang disebut sebagai perkara yang termasuk dalam kategori Asas Syara' dan perkara yang masuk dalam kategori Furu' Syara'.

* Asas Syara'

Yaitu perkara yang sudah ada dan jelas ketentuannya dalam Al Quran atau Al Hadits. Kedudukannya sebagai Pokok Syari'at Islam dimana Al Quran itu Asas Pertama Syara' dan Al Hadits itu Asas Kedua Syara'. Sifatnya, pada dasarnya mengikat umat Islam seluruh dunia dimanapun berada, sejak kerasulan Nabi Muhammad saw hingga akhir zaman, kecuali dalam keadaan darurat.

Keadaan darurat dalam istilah agama Islam diartikan sebagai suatu keadaan yang memungkinkan umat Islam tidak mentaati syari'at Islam, ialah keadaan yang terpaksa atau dalam keadaan yang membahayakan diri secara lahir dan batin, dan keadaan tersebut tidak diduga sebelumnya atau tidak diinginkan sebelumnya, demikian pula dalam memanfaatkan keadaan tersebut tidak berlebihan. Jika keadaan darurat itu berakhir maka segera kembali kepada ketentuan syari'at yang berlaku.

* Furu' Syara'

Yaitu perkara yang tidak ada atau tidak jelas ketentuannya dalam Al Quran dan Al Hadist. Kedudukannya sebaga Cabang Syari'at Islam. Sifatnya pada dasarnya tidak mengikat seluruh umat Islam di dunia kecuali diterima Ulil Amri setempat menerima sebagai peraturan / perundangan yang berlaku dalam wilayah kekuasaanya.

Minggu, 04 Januari 2009

Jual Pendidikan dengan UU BHP...?

Kapitalisme ternyata sudah merambah kemana-mana, ke semua aspek kehidupan. Kemarin telah disyahkan Rancangan Undang-undang Badan Hukum Pendidikan oleh DPR, yang ditentang oleh berbagai kelangan termasuk mendiknas sendiri. Lalu apa yang menjadi penyebab penolakan UU BHP ini? kalo kita baca isi draft RUU nya, bisa ditarik kesimpulan bahwa satuan pendidikan (Sekolah, PT) yang nantinya sudah di-BHP-kan akan seperti layaknya perusahaan yang orientasinya pada keuntungan, jadi pendidikan itu didagangkan, kalo dagang kan pasti cari untung. coba perhatikan salah satu isi UU ini :
Pasal 4 ayat 1:
Dalam pengelolaan dana secara mandiri, BHP didasarkan pada prinsip
nirlaba, yaitu prinsip kegiatan yang tujuan utamanya bukan mencari sisa
lebih, sehingga apabila timbul sisa lebih hasil usaha dari kegiatan BHP,
maka seluruh sisa lebih hasil kegiatan tersebut harus ditanamkan kembali
ke dalam BHP untuk meningkatkan kapasitas dan/atau mutu layanan
pendidikan.
Meskipun disitu disebutkan bahwa sisa hasil keuntungan dikembalikan untuk peningkatan mutu layanan namun sepertinya mengadung kelemahan, biasanya sisa keuntungan itu ya dibagi-bagi bukan untuk meningkatan mutu. Di samping itu yang sangat ditentang adalah adanya kewenangan pihak sekolah untuk memungut biaya lebih besar lagi dari masyarakat, kalo ini terjadi ya yang bisa sekolah pastilah orang yang berduit sedangkan dalam undang undang dasar disebutkan bahwa pendidikan adalah hak setiap warga negara yang harus dipenuhi oleh negara karena memang itu tugas negara.
So mau gimana lagi, untuk bisa pintar itu sussah… di negeri ini, kapitalisme itu ternyata menyengsarakan, ada alternatif ga?

sumber : http://www.kompas.com/kompas-cetak/0709/07/opini/3798635.htm
Menolak RUU BHP
Darmaningtyas
Departemen Pendidikan Nasional dan DPR tengah menggodok Rancangan
Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan dan ditargetkan dapat disahkan
menjadi undang-undang tahun 2007 ini. RUU BHP diinisiasi sejak
2003, tetapi sampai sekarang belum disahkan. Ini membuktikan bahwa
RUU BHP sangat problematik dan tidak layak disahkan menjadi
undang-undang.
Draf RUU BHP yang terakhir (22 Agustus 2007) sudah lebih baik
karena ada penegasan tentang tanggung jawab pendanaan dari
pemerintah sebagaimana diatur dalam Pasal 31 UUD 1945, tetapi
sifatnya setengah-setengah karena muncul rumusan "…minimal 60 persen
dari kumulasi biaya operasi, biaya investasi, beasiswa, dan bantuan
biaya pendidikan bagi peserta didik pada BHP tersebut" (Pasal 23
Ayat 4). Adapun Pasal 23 Ayat 5 membatasi partisipasi masyarakat
dalam pendanaan pendidikan maksimal 20 persen dari biaya
operasional satuan pendidikan pada BHP.
Munculnya Pasal 23 Ayat 4 itu merespons kritik bahwa RUU BHP adalah
upaya pemerintah melepaskan tanggung jawab pendanaan pendidikan.
Hanya saja, meresponsnya setengah hati. Ayat 5 menunjukkan adanya
kemauan politik dari pemerintah dan pemerintah daerah untuk menekan
pungutan-pungutan biaya pendidikan yang dikeluhkan oleh masyarakat
selama ini. Namun, ini sekaligus menjadi bumerang bagi BHP yang
diselenggarakan masyarakat (baca: sekolah swasta) ketika dalam
praktiknya pemerintah hanya memberikan 60 persen dari total biaya
operasional sekolah, sedangkan masyarakat hanya boleh membayar
maksimal 20 persen. Bagaimana sekolah tersebut harus menutup
kekurangan biaya operasional yang 20 persen?
Sebuah UU yang mengatur hak dan kewajiban bagi warga dan negara
haruslah jelas agar mudah diimplementasikan dan tak multitafsir.
Apalagi UU yang mengatur masalah pendidikan harus jelas arasnya,
yaitu Kovenan Ecosoc PBB dan Pembukaan UUD 1945, bahwa pendidikan
itu merupakan hak dasar yang dimiliki oleh setiap warga dan tugas
negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.
Ketidakjelasan tanggung jawab negara itu juga terlihat dalam hal
penyediaan tenaga guru dan dosen. Pasal 29 Ayat 1-4 hanya mengatur
status karyawan BHP yang terdiri atas pendidik, tenaga kependidikan
lainnya, dan tenaga penunjang; yang pengangkatan/pemberhentiannya
oleh BHP berdasarkan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga.
Adapun Pasal 30 Ayat 1 dan 2 hanya mengatur status PNS yang dapat
menjadi karyawan BHP dengan status PNS yang dipekerjakan. Kedua
pasal sama sekali tidak mengatur secara jelas tanggung jawab negara
dalam penyediaan tenaga pendidik (guru dan dosen) serta
kependidikan bagi semua sekolah.
Meliberalisasi pendidikan
Selain mencerminkan tanggung jawab negara yang setengah hati, RUU
BHP ini juga melegitimasi liberalisasi pendidikan. Hal itu terlihat
jelas pada Pasal 8 Ayat 1 dan 2 yang memperbolehkan lembaga
pendidikan asing yang telah terakreditasi mengadakan pendidikan di
Indonesia dengan menyediakan biaya penyelenggaraan satuan
pendidikan maksimal 49 persen dari kebutuhan penyelenggaraan satuan
pendidikan. Pasal ini melegitimasi Peraturan Presiden Nomor 76 dan
77 Tahun 2007 tentang sektor-sektor yang tertutup dan terbuka untuk
penanaman modal asing (PMA), yang salah satunya adalah sektor
pendidikan, termasuk pendidikan dasar dan menengah dengan
kepemilikan maksimal 49 persen. RUU BHP ini juga mengukuhkan
keberadaan perguruan tinggi badan hukum milik negara (PT BHMN) yang
sekarang dampak kemahalannya sudah dirasakan secara luas.
RUU BHP ini tak hanya mengatur pendidikan tinggi, tetapi semua
jenjang pendidikan dari pendidikan anak usia dini jalur pendidikan
formal, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan
tinggi (Pasal 1 Ayat 1 dan 5). Jadi sama sekali tidak benar
bantahan-bantahan yang diberikan Depdiknas atau anggota DPR bahwa
RUU BHP ini lebih fokus pada perguruan tinggi saja.
Kelemahan mendasar RUU BHP ini adalah hanya didasarkan pada Pasal
53 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU
Sisdiknas). Padahal pasal tersebut pernah digugat oleh sekelompok
masyarakat untuk dibatalkan karena dinilai melanggar konstitusi,
tetapi ditolak Mahkamah Konstitusi.
Ironis bahwa RUU BHP—termasuk naskah akademiknya yang menjadi roh
dari RUU—sama sekali tidak merujuk pada Pancasila dan UUD 1945.
Sebaliknya roh dari RUU BHP itu sangat pragmatis dan liberal.
Yang pasti, RUU BHP ini akan menghapus keragaman institusi
pendidikan yang ada selama ini. BHP yang selama ini sudah ada,
seperti yayasan dan perkumpulan, semua harus segera menyesuaikan
dengan UU BHP.


Oleh : Darmaningtyas Pengurus Majelis Luhur Taman Siswa

DISABLE AUTORUN/AUTOPLAY PADA WINDOWS Disable Autorun/Autoplay melalui registry

1. Buka registry editor
Klik menu [Start/Run]
Pada dialog box RUN,ketik regedit

2. Browse ke alamat registry berikut :
HKEY_CURRENT_USER\Software\Microsoft\Windows\Current
Version\Explorer.

3. Kemudian klik ganda pada string NoDriveTypeAutoRun

4. Isi value data dengan “ff” [sebelumnya “91”] yang berarti fungsi
autorun/autoplay akan dimatikan pada 255 drive.

5. Klik tombol OK.

6. Keluar dari “registry Editor”.

7. Restart Computer agar perubahan ini berjalan.




Disable Autorun/Autoplay melalui Group Policy [GPEDIT.MSC]

1. Klik menu [Start].
2. Klik [Run].
3. Ketik GPEDIT.MSC pada kolom “RUN”.
4. Setelah muncul layer “Group Policy”, klik folder “System” pada menu “User Configuration” dan “Computer Configuration”.
5. Pada kolom settings, klik dua kali “Turn off Autoplay”.
6. Setelah muncul layer “Turn off autoplay” properties, klik tabulasi [settings] dan pilih opsi “Enable” pada menu “Turn off Autoplay”, kemudian pilih “All Drive” pada kolom “Turn off Autoplay on”.
7. Kemudian klik OK.
8. Klik “Close” untuk keluar dari layer “Group
Policy”.
9. Restart Computer.

Sabtu, 03 Januari 2009

Redefinisi Gerakan Pemuda

Oleh :
Agus Hermawan


Coretan Sejarah Pemuda
Gerak pemuda dalam sejarah kebangsaan tak ubahnya seperti air. Selalu bergerak mencari tempat dengan potensial yang sesuai. Bila ditekan disatu titik maka ia akan merembes, muncul dan kadang muncrat ditempat lain. Seperti juga halnya dengan air, gerak pemuda ada pasang dan surutnya. Ada yang tumbuh lalu ada yang mati. Tapi satu hal yang tetap tercatat dalam sejarah adalah bahwa pergerakan pemuda adalah pergerakan yang berusaha untuk maju. (Dr.Muhammad Budi Setiawan,M.Eng)
Sepanjang catatan sejarah, pemuda selalu berada pada posisi strategis. Bentuk perannya memang tidak pernah tetap, bisa sangat cultural dilain waktu bisa menjadi sangat structural dan selalu berubah dari waktu-kewaktu sesuai periodeisasi sejarah yang melatari.
Pada fase kedaerahan misalnya, pemuda yang berjuang melalui semangat kedaerahan dimasing-masing daerah ditandai dengan lahirnya banyak tokoh perlawanan terhadap penjajah pada saat itu dalam upaya meraih kemerdekaan, seperti Pangeran Diponegoro, Cut Njak Dien, Cik Ditiro dan banyak lagi. Dalam bentuknya yang masih sangat cultural dan bersifat kedaerahan ini, tokoh-tokoh pemuda tersebut sudah menunjukkan eksistensinya sebagai pencetus maupun tonggak awal perjuangan dalam mempertahankan dan memperjuangkan kehormatan diri sebagai satu-kesatuan negara yang bernafas dan berlandaskan moral-moral agama yang menolak terhadap kependudukan kaum imperialisme penjajah.
Lain lagi halnya dengan masa awal pergerakan nasional, dimana pemuda secara sosial dimaknai sebagai generasi terpelajar (educated person) dan mulai menunjukkan perangainya sebagai simpul pemersatu tanah air dan motor penggerak (driving force) pergerakan bangsa yang ditandai dengan berdirinya Boedi Utomo 1908. Tanpa meningggalkan spirit yang sama namun dengan cara yang lebih efektif dan terkoordinasi dengan semangat persatuan. Kiprah pemuda pada masa itupun tak dapat dianggap remeh, Dr. Muhammad Hatta, misalnya, pada tahun 1926 pada usia 24 tahun, telah dipercaya untuk memimpin delegasi Indonesia ke Kongres Demokrasi International untuk Perdamaian di Bierville, Perancis. Dimana nama Indonesia diakui oleh kongres secara resmi tanpa penolakan yang berarti.
Islam yang secara jelas telah mengatakan dalam kitab sucinya Alqur’anulkarim : “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menciptakan (kamu) sesudah itu lemah (kembali) dan berubah. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS : Ar-Ruum 30 : 54).
Merujuk pada ayat di atas, Islam telah mengkategorikan 3 fase kehidupan manusia, pertama yaitu keadaan yang lemah (fase anak-anak), kemudian keadaan kuat (fase pemuda) dimana pada fase inilah manusia lebih dinamis dan terlahir sebagai agen-agen perubah, pengontrol dan pemimpin masa depan yang seharusnya mampu membawa sebuah kedamaian dan ketenteraman bagi semua kalangan, dan yang terakhir kembali kepada keadaan lemah (fase Tua).
Dalam hal ini Islam telah mengatakan, bahwa dalam setiap perubahan dan juga proses beragama, dan bernegara pemuda selalu memegang peranan penting dan menjadi leading sector dalam setiap proses perbaikan dan penataan ulang kehidupan sosial yang lebih mendekatkan diri kepada ilah atau Yang Kuasa sebagai kontrol diri dalam menghadapi arus kehidupan duniawi yang semu dan banyak mengandung unsur bara’ (berlepas diri terhadap nilai-nilai ketuhanan).

Pemuda Kekinian
Dimana, sedang apa dan bersama siapa pemuda saat ini? Sebuah celetukan pertanyaan yang saya rasa harus kita jawab bersama. Kondisi sebagian pemuda Indonesia saat ini berada dalam keberadaan yang sangat memprihatinkan. Kasus-kasus narkoba, seks bebas, mabuk, kekerasan dan lain sebagainya terus menyertai pemberitaan mengenai pemuda Indonesia saat ini. Seolah-olah hal ini telah menciptakan stigma tersendiri bagi pemuda saat ini yang seharusnya menjadi agent of control (agen pengontrol) berubah menjadi agent lose control (agen yang lepas control). Belum hilang rasanya memory ingatan kita dimana akhir-akhir ini maraknya pemberitaan mahasiswa yang bentrok antar kampus dimakassar hanya karena permasalahan saling ejek antar individu, atau pemberitaan mengenai kekerasan yang terjadi di IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri) yang merenggut beberapa nyawa, hal inipun semakin heboh dengan dengan bukti-bukti dalam buku ”IPDN Undercover” mengenai banyaknya seks bebas dan aborsi dikalangan mahasiswa IPDN.
Apa jadinya jika negara ini harus dipimpin oleh pemuda-pemuda tersebut...? pemuda yang harusnya menjadi agent of future atau pemuda yang lebih lekat dengan identitas sebagai kaum intelektual, ternyata tak ubahnya dengan preman yang hanya berkedok mahasiswa atau apalah sebutannya. Ironis memang dan harusnya ini merupakan bahan refleksi kita bersama. Haruskah kita pemuda terus berada dan berbangga dengan stigma yang diberikan ini? atau lebih memilih untuk berbenah diri sekecil apapun itu, karena kita memang sudah seharusnya mengambil peranan itu kembali, peranan kita sebagai agent of control (agen pengontrol), future leaders (pemimpin masa depan), agent of change (agen perubah), director of change (pengarah perubahan) dan sebagai agent of social (agen sosial). Tidak lantas berbalik menjadi figur yang individualistis dan menutup mata tanpa peduli pada keberadaan sekitar.

Redefinisi Gerakan Pemuda
Meskipun demikian, kita tetap tidak boleh mengesampingkan kenyataan bahwa masih ada pemuda Indonesia yang berprestasi hingga tingkat international. Sudah beberapa tahun ini pelajar Indonesia meraih juara di Olimpiade fisika International. Sebuah prestasi yang sangat membanggakan bangsa ini. Belum lagi dengan banyaknya putra bangsa ini yang mampu bersaing dan berkompetisi dengan skill yang dimiliki, sebagai contoh yaitu President RI ke-3, Bpk Prof.BJ.Habibie, yang mana pemikirannya banyak diadopsi oleh negara jerman dalam pembuatan teknologi transportasi baik itu kapal maupun pesawat terbang.
Harusnya hal ini mampu menjadi stimulan bagi generasi muda bangsa saat ini. Sebagai bahan acuan untuk membangun karakter pemuda yang telah lama terpendam dan tidur dalam kelelapan Hedonisme dan Sekulerisme. Bentuk pengartian kembali terhadap gerakan pemuda (Redefinisi Gerakan Pemuda) saat ini memang sangat diperlukan, selain karena tuntutan jaman yang semakin memerlukan peran dan partisipasi pemuda sebagai pemegang estafet pembangunan kedepannya, dilain sisi juga karena kondisi kebangsaan saat ini yang mengalami berbagai krisis. Mulai dari krisis multidimensi, krisis ekonomi dan juga krisis moralitas kepemudaan semakin menjauhkannya dari peran seharusnya.
Pemuda yang seolah-olah terlena dengan kehidupan duniawi (Hedonisme) dan lebih beranggapan tidak pentingnya agama sebagai self control dengan kata lain sekularisme menyebabkan pola pikir dan tindakan yang seharusnya berasal dari moralitas diri, terlepas dan mengalir begitu saja tanpa ada bedeng yang mampu membentengi diri. karena walau bagaimanapun tidak akan pernah tercipta suatu prestasi dan karya yang bersifat konstruktif apabila pribadi pemuda tersebut jauh dari yang nama Iman. Artinya kondisi kepemudaan saat ini tak terlepas dari kualitas diri yang jauh dari nilai-nilai agama, karena bagaimanapun agama seharusnya menjadi fondasi pemikiran dan juga tindakan agar output yang dikeluarkan tidak sembrono.
Dengan kata lain jika pemuda menyadari dan mencoba untuk meredifinisi gerakannya. Maka tidak ada jalan lain, kecuali dengan kembali kepada fitrahnya sebagai makhluk yang berketuhanan dan berkewajiban menjalankan setiap perintah agama. Karena seharusnya Demokrasi (Kekuasaan Manusia) harus menyesuaikan dengan Theokrasi (Kekuasaan Tuhan), bukan sebaliknya...!!!

Hidup Pemuda...!
Hidup Mahasiswa...!
Aku Bicara © 2008. Design by :Yanku Templates Sponsored by: Tutorial87 Commentcute