Kucing datang,Cepat ganti muka
Segera menjelma, Bagai tak tercela
(Tikus-Tikus Kantor, Iwan Fals)Cuplikan lagu Iwan Fals yang berjudul
"Tikus-Tikus Kantor"menggambarkan prilaku manusia yang mengikuti sifat tikus. Meskipun
salah, karena kelihaiannya, seakan-akan menjadi seorang malaikat yang
tak tercela.
Anehnya, beberapa waktu yang lalu, mantan petinggi Group Bakrie yang
juga Ketua Umum Partai Golkar menyerukan kepada kader partai, yang
besar di era rejim otoriter orde baru itu, untuk meniru prilaku tikus
dalam berpolitik.
Sementara sebelumnya, dihadapan para komunitas blogger, Aburizal Bakrie
dengan lantangnya mengatakan tidak merasa bersalah dalam kasus semburan
lumpur Lapindo. Ia seakan mengabaikan bahwa mayoritas pakar pemboran
internasional mengungkapkan bahwa semburan lumpur di Sidoarjo bukan
bencana alam namun akibat aktivitas pemboran Lapindo, perusahaan milik
Group Bakrie. Hal yang sama juga diungkapkan oleh hasil audit Badan
Pemeriksa Keuangan (BPK). Untuk menyembunyikan kejahatan itulah,
Aburizal Bakrie menggunakan instrumen Partai Golkar dan Sekretariat
Gabungan Partai Koalisi.
Intelektual dan budayawan tentu sangat berperan dalam membela
masyarakat yang menjadi korban semburan lumpur Lapindo ini. Kebenaran
dan keadilan harus ditegakan. Para intelektual dan budayawan harus
mulai berani menyuarakan nuraninya. Korban lumpur Lapindo harus mereka
bela.
Namun penghargaan Bakrie Award sangat mungkin akan membuat para
intelektual dan budayawan itu enggan dan ragu untuk menyuarakan
kebenaran dan keadilan dalam kasus semburan lumpur Lapindo.
Untuk itu, Gerakan Masyarakat Sipil Menuntut Keadilan Korban Lumpur
Lapindo menyerukan kepada para penerima Bakrie Award, untuk
mengembalikan Bakrie Award. Dengan mengembalikan penghargaan, para
intelektual dan budayawan itu menjadi bebas untuk menyuarakan kebenaran
dan keadilan dalam kasus lumpur Lapindo. Tentu saja dengan
mengembalikan Bakrie Award, para intelektual dan budayawan itu juga
terhindar dari ancaman politik tikus yang memiliki karakter licik dan
culas.
Para penyeru untuk pengembalian Bakrie Award:
1. Siti Maemunah, Jariangan Advokasi Tambang (Jatam)
2. Andree Wijaya (Jatam)
3. Usman Hamid, Komite untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS)
4. Chalid Muhammad, Institut Hijau Indonesia
5. Riza Damanik, Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA)
6. Berry Nadian Furqon, Walhi Nasional
7. Taufik Basari, LBH Masyarakat
8. Doel Haris, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI)
9. Catur, Walhi Jawa Timur
10. Rini Nasution, Yayasan SatuDunia
11. Musjtaba Hamdi, Posko Korban Lapindo-Porong, Sidoarjo
12. Firdaus Cahyadi, Yayasan SatuDunia
13. Sinung , KontraS
14. Ndaru, Imparsial
15. Larasati, LBH Masyarakat
16. Luluk, Jatam
17. Beggy, Jatam
18. Pius Ginting, Walhi Nasional
19. Halim, Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA)
20. Dewi, Solidaritas Perempuan
21. Dyah Paramita, ICEL
22. Selamet Daryoni, Institut Indonesia Hijau
23. Cut Rindayu, Yayasan SatuDunia
24. Hendro Sangkoyo
25. Torry Kuswardono
26. Arief Wicaksono
27. Andreas Harsono, Yayasan Pantau
28. Imam Shofwan, Yayasan Pantau
29. Don K. Marut
30. Riza V. Tjahjadi, Biotani & Bahari Indonesia
31. Teguh Surya, Walhi Nasional
32. Erwin Basrin dari Akar Bengkulu
33. Ronald Reagen dari Komkot PRP Bengkulu
34. Sofyan, Bingkai-Indonesia, Jogjakarta
35. Abdul Waidl, Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Jakarta
36. Siti Nurrofiqoh, Yayasan Pantau
37. Wahyu Susilo, Infid
38. Mohammad Djauhari, KPSHK
39. M. Zulficar Mochtar, Destructive Fishing Watch (DFW)
40. SABASTIAN E SARAGIH
41. Ruby, Asian Muslem Action Network (AMAN) Indonesia
42. Djuni Pristiyanto, Moderator Milis Lingkungan dan Milis Bencana
43. Bosman Batubara
44. Akhmad Murtajib, Institut Studi untuk Penguatan Masyarakat
45. Valentina Sri Wijiyati, Koord. Div. Advokasi Penganggaran Untuk Pemenuhan Hak EKOSOB IDEA Yogyakarta.
46. Muslimin Beta, Turatea Profesional Network
47. Maria Josephine Wijiastuti, Jakarta
48. R. Yando Zakaria, fellow pada Lingkar Pembaruan Desa dan Agraria (KARSA), Yogyakarta.
49. Fahri Salam, Yayasan Pantau
50. Subagyo, LHKI Surabaya
51. AbduRahman, Tankinaya Institute
52. Chick Rini, Yayasan Leuser International
53. Rere Christanto, Posko Porong
54. Dian Prima, Posko Porong
55. Sapariah Saturi-Harsono, Wartawan
56. Endang Prihatin, Wartawan
57. Indra Purnomo, Freelancer
disunting dari : Firdaus Cahyadi